Anak Muda Makassar Yang Mendidik Penulis: Muh. Zia Ul Haq

Pendidikan itu bukan hanya tugas negara, setuju kan? Dalam cerita ini ada kisah anak-anak muda Makassar yang mendidik. Kepo? Baca saja sampai selesai.

—–

Barangsiapa menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan keduanya, maka harus dengan ilmu”.- Imam Syafi’i

Pendidikan merupakan bagian penting dalam proses kehidupan sedari dulu. Salah seorang pemikir kuno yang hidup pada sebelum masehi 478-399 SM menyadari pentingnya pendidikan itu. Ialah Socrates, seorang anak dari pemahat dan bidan. Menurut Socrates tujuan pendidikan adalah merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual secara terus menerus serta standar moral yang tinggi.

Sementara itu tokoh filsafat pendidikan Plato, yang juga murid dari Socrates, mengatakan pendidikan itu adalah tugas suatu bangsa yang wajib dilaksanakan untuk kepentingan negara dan perorangan. Selain itu, menurut Plato, dalam suatu negara idealnya pendidikan memperoleh prioritas yang paling tinggi dan mendapat perhatian khusus bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah tugas dan panggilan yang sangat mulai yang harus ditunaikan.

Sadar dengan pentingnya pendidikan, pendiri ormas (organisasi masyarakat) Islam Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan menjadikan pendidikan sebagai senjata ampuh dalam menyebarkan ajaran Islam. Beliau mendirikan taman pendidikan Al-qur’an di halaman rumahnya sebagai langkah awal menyerbarkan ajaran islam lewat jalur pendidikan. Hingga sekarang tumbuh berkembang mulai dari sekolah dasar (Madrasah Ibtidayah), Sekolah Mengah Pertama (SMP/Tsanawiyah), Sekolah Menengah Atas (SMA/Madrasah Ibtidayah) dan Perguruan Tinggi Islam Muhammadiyah yang menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Seakan tak mau kalah dengan gerakan-gerakan masif oleh para pendahulu dan sadar pentingnya pendidikan itu sendiri, beberapa anak muda Makassar berkumpul dan menyatukan visi dan misi untuk menunaikan tugas sebagai orang terdidik, yaitu mendidik.

Komunitas-komunitas yang mengatasnamakan diri berada di jalur pendidikan bermunculan dengan aturan main mereka masing-masing. Ada yang fokusnya ke pendidikan anak-anak jalanan, ada yang fokus ke daerah pendidikan pedalaman, ada pula yang fokus ke pendidikan daerah pinggrian kota Makassar.

Konsep kegiatan pun jauh dari formalitas, mereka merancang sendiri bahan ajar, kurikulum dan pendidiknya tidak harus dari mahasiswa jurusan pendidikan ataupun tenaga pendidik- guru itu sendiri. Mereka yakin siapa pun bisa jadi guru, di mana pun bisa jadi ruang belajar, dan yang terakhir mereka meyakini bahwa pendidikan itu mutlak hak warga Negara, jadi siapa pun,dari manapun, suku apapun,agama apapun, MEREKA TETAP INDONESIA.

Komunitas-komunitas ini terlihat begitu kreatif dalam membungkus setiap kegiatan mereka masing-masing. KPAJ (Komunitas Pencinta Anak Jalanan) misalnya, mendirikan kelas sendiri di daerah Kec.Tamalanrea. Selain pengetahuan literasi (baca,tulis), komunitas KPAJ menanamkan kemampuan softskill kepada pasukan bintang (julukan untuk anak didik KPAJ) seperti membuat merchandise (buah tangan). Dengan bekal itu mereka berharap para pasukan bintang tidak turun lagi kejalan mengemis untuk mendapatkan sebungkus nasi (baca:uang).

Komunitas 1000_Guru Makassar melalui kegiatan Traveling and Teaching (jalan-jalan sambil mengajar) mengajak anak-anak muda Indonesia untuk menjadi guru sehari di daerah pelosok. Semua sekolah yang telah dikunjungi merupakan sekolah yang berada di pedalaman dan perbatasan. Tak jarang medan yang berat mereka harus lalui demi misi mulia MENCERDASKAN ANAK PEDALAMAN.

rombongan komunitas 1000_guru makassar sedang dalam perjalan menuju lokasi “Traveling and Teaching” (sumber: @1000_guru_mksr)

Bahan ajar pun dirancang dengan metode fun teaching (mengajar dengan bermain) sehingga membuat antusias siswa(i) pedalaman untuk belajar lebih baik dan suasana kelas beda dari biasanya. Selain mengajar, komunitas ini selalu menggalang bantuan untuk kebutuhan anak-anak pedalaman, seperti tas sekolah, seragam, sepatu dan alat tulis.

Selain kegiatan Traveling and Teaching, adapula program Beasiswa Guru Pedalaman. Program yang bertujuan memberikan santunan kepada guru-guru yang masih berstatus “honorer” yang telah lama mengabdikan diri. Melalui kegiatan-kegiatan ini, komunitas 1000_Guru Makassar berharap pemerintah bisa lebih memerhatiakan pendidikan utamanya didaerah pedalaman dan pemerataan pendidikan harus ditunaikan karena pendidikan adalah hak segala warga negera Indonesia.

Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI) Makassar melalui program kelas SIGI CARAKDE ikut pula ambil peran dalam memajukan pendidikan Indonesia. Carakde yang dalam bahasa Makassar berarti pintar,tapi juga akronim dari baCa tulis, AritmetikA, Dakwah dan English, keempat unsur yang mereka ajarkan.

Menurut Nunu (penggiat komunitas SIGI), SIGI Carakde merupakan projek pengembangan sumber daya manusia mulai dari pembentukan karakter, akhlak, dan kemampuan motorik serta kreatifitas anak didik mereka. Sistem pembelajran di program carakde pun jauh dari kesan formalitas,proses pembelajaran mengacu pada modul yang disusun oleh tim dari SIGI. Kelas ini dilaksanakan setiap satu kali dua pekan serta lokasi carakde untuk saat ini berada di daerah pinggir sungai jeneberang kota Makassar biasa di sebut Asrama Dayung Jl. Daeng Tata 3.

Kelas alternatif dengan tagline “belajar tanpa batas” dilaksanakan pertama kali didesa nelayan kelurahan untia Makassar pada awal tahun 2013 sampai februari 2014. Peserta didik mereka berasal dari adik-adik pengamen, pengemis dan pedagang asongan di Anjungan Pantai Losari. Kemudian pada bulan maret 2014 kelas carakde berpindah di kelurahan Lakkang kecamatan tallo kota Makassar. Carakde Lakkang berlangsung selama 8 bulan dan mereka fokus mengajarkan 4 (empat) pondasi dari kelas carakde itu sendiri, literasi (baca tulis), aritmatika (hitung menghitung), dakwah (wawasan keislaman), dan bahasa inggris (English). Selain keempat materi wajib itu mereka juga mengimprovisasi dengan menambahkan beberapa materi sesuai kebutuhan peserta didik mereka.

Dari Lakkang, kelas Carakde berlanjut ditempat berbeda, yaitu daerah Pandang Raya Panakkukang. Daerah ini merupakan daerah korban penggusuran. Komunitas sigi Makassar mendirikan kelas didaerah ini karena prihatin dengan nasib anak-anak korban penggusuran. Materi yang diajarkanpun tak jauh berbeda seperti kelas-kelas sebelumnya hanya ada beberapa tambahan salah satunya yaitu “trauma healing”.

Menurut Gordon Thompson (seorang psikiater), secara bahasa healing berarti menyembuhkan sedangkan dalam konteks trauma healing di sini dapat artikan sebagai usaha menyembuhkan seseorang dari trauma. Trauma healing berhubungan erat dalam upaya mendamaikan, hal ini tentang membangun atau memperbaiki hubungan manusia yang berkaitan dengan mengurangi perasaan kesepian, memperbaiki kindisi kejiwaan, mengerti tentang arti kedamaianmengurangi perasaan terisolasi, kebencian, dan bahaya yang terjadi dalam hubungan antar pribadi.

Melalui trauma healing, SIGI Makassar berharap anak-anak korban penggusuran dapat melupakan sejenak tentang apa yang mereka lihat dan rasakan saat penggusuran. Apalagi saat penggusuran terjadi sempat menimbulkan bentrokan antara aparat keamanan dan warga daerah penggusuran yang tak terima hak mereka diambil. Selain upaya itu, kelas carakde pandang raya berharapa agar peserta didik mereka terus bersemangat sekolah. “lebih ke ngasih semangat lagi untuk terus belajar dan bercita-cita” ujar Nunu.

Melihat gerakan komunitas-komunitas ini, saya beranggapan anak-anak muda Makassar ini sudah sangat membantu dalam bidang pendidikan anak-anak yang kurang mendapat perhatian pemerintah.

Saya teringat dengan perkataan Bung Karno“Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Anak-anak muda Makassar sudah membuktikan perkataan itu!*

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz