Berburu Jajanan Masa Kecil di Pasar Terong Penulis: Afaath

Masih ingat dengan Balon AAA atau permen Pendekar Biru yang bikin lidah berwarna biru saat memakannya? Kangen dengan jajanan masa kecil? Bagi kamu yang kepo di mana bisa mendapatkan jajanan masa kecil dengan harga murah, tulisan ini mungkin bisa menjawanbnya.
—–

“Kalau boleh tahu, dari tadi foto-foto untuk apa yah ?” Tanya seorang perempuan sambil memasukkan barang daganganya ke kantong plastik.  Dia pemilik dari kedai jajanan eceran di salah satu pasar di kota Makassar. Saya berbalik dan  menarik sudut bibir selebar-lebarnya. Saya yang sejak tadi  memotret jualannya belum menjelaskan maksud kedatangan saya.

Yah, hari itu saya jalan-jalan salah satu pasar yang ada di Makassar untuk membuat tulisan seputar pasar tradisional. Saya memilih Pasar Terong. Pasar tradisional terbesar yang ada di Makassar ini terletak di Jalan Terong, Kecamatan Wajo, Makassar, salah satu kawasan strategis di kota Makassar

Pasar Terong adalah pasar induk yang memasok berbagai kebutuhan bagi warga kota Daeng, seperti sayur-mayur, aneka jenis ikan, telur, buah-buahan, dan kebutuhan lainnya. Pasokan berbagai kebutuhan ini berasal dari berbagai daerah di Sulawesi-Selatan seperti Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros, bahkan sampai Sidrap. Selain menyediakan berbagai kebutuhan warga Makassar, Pasar Terong juga memasok berbagai kebutuhan ini ke berbagai propinsi di Indonesia.

Pasar yang sudah ada sejak awal tahun 1960an ini juga terkenal sebagai salah satu sentra cakar, akronim dari Cap Karung, sebutan bagi pakaian bekas impor. Sebutan ini muncul karena pakaian-pakaian bekas itu diimpor dalam karung.

Tapi, saya tidak akan membahas Pasar Terong sebagai pemasok kebutuhan pokok atau cakar itu. Kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang jualan jajanan anak tempo dulu yang masih dijual di Pasar Terong. Sedikit bernostalgia dengan jajanan yang dulu sering saya nikmati tetapi sudah jarang saya dapati di sekitar.

Beberapa bulan yang lalu, saya jalan-jalan di sebuah pusat perbelajaan di kota Makassar bersama teman-teman. Kami singgah di sebuah supermarket dan mendapati jajanan era 90an yang karib mengisi masa kecil kami.

Harganya cukup mahal, kata seorang teman saya. “Kalau ke pasar, harganya cuma Rp. 6000,- satu box, ini cuma 5 biji Rp 6000. Coba lihat di Pasar Terong kayaknya banyak.” Celetuk teman saya sambil memegang sebuah jajanan anak-anak.

Jadilah saya ke Pasar Terong, berburu jajanan anak-anak yang sudah ada sejak tahun 90an dengan harapan bisa mendapatkan harga lebih murah. Dari hasil bertanya pada penjual sekitar saya mendapatkan petujuk letak kedai jajanan anak tersebut, hanya tinggal lurus dari arah Jalan Bawakaraeng hingga mendapatkan blok penjual ikan, ayam, udang dan sebagainya yang berada di sebelah kanan. Menurut saya agak aneh karena kedai makanan berada di daerah penjual ikan yang notabene basah dan menghasilkan bau.

Suasana pasar Terong

Setelah belok kanan ke blok penjual ikan, saya hanya perlu berjalan lurus hingga mendapatkan sebuah kedai jajanan anak. Tampak berbagai jajanan anak disediakan pada kedai tersebut.Beberapa jajanan tersebut masih ada di  toko eceran atau penjual lapak yang biasa menampakkan jualannya di sekitar sekolah dasar, tetapi beberapa jajanan sudah mulai kurang di pasaran. Mungkin karena tergeser oleh jajanan pabrik lainnya yang lebih besar. Beberapa jajanan di kios sudah saya dapatkan sedari masih sekolah dasar.

Seorang perempuan berusia sekisar 30an menjaga kedai yang saya datangi. Menurut pengakuannya, ia sudah berjualan selama kurang lebih delapan tahun (red: pada tahun 2015). Sebagian besar jualannya berupa jajanan kripik, permen dan permainan undian berhadiah. Selain jajanan anak, ia juga berjualan kebutuhan rumah tangga seperti sabun, detergen dan shampo.

Berbagai jajanan anak-anak tersedia di sana. Mulai dari Balon AAA, jenis balon yang bentuk awalnya serupa gel dan baru mengembang kalau ditiup dengan bantuan satu tongkat plastik kecil seukuran batang korek api. Harganya Rp.6.000,- per box, harga yang cukup murah dibandingkan harga toko dan harga supermarket.

Kemudian ada cup Choyo-Choyo yang berisi coklat. Sewaktu saya kecil seingat saya harga satu coklat per cupnya Rp. 200,- . Sekarang satu papan isi 12 harga Rp. 6.000,- . Sewaktu  kecil saya cuma bisa beli satu sampai dua cup karena uang jajan yang terbatas, sekarang dua papan juga bisa hahaha.

Ada berbagai jajanan lainnya, beberapa jajanan sudah jarang kita temui seperti permen Pendekar Biru yang kalau kita cicipi akan membuat lidah berwarna biru. Ada juga permen berbentuk rokok dengan rasa mint, coklat dan stoberi yang biasa diemut anak-anak sambil memperagakan gaya orang merokok. Harga masing-masing Rp.4.500,- per bungkus.

Sangat menyenangkan melihat berbagai jenis jajanan yang pernah kita cicipi ketika masih kecil, sedikit bernostalgia dan membedakan rasanya sekarang dibandingkan dahulu. Perbedaan paling terlihat adalah bentuk, sewaktu kecil bentuknya lebih besar mungkin disebabkan bertambahnya ukuran tubuh maka beberapa barang terasa lebih kecil.

Selesai berkeliling, saya segera pulang dengan membeli dua jajanan, satu pack coklat cups dan permen rokok.

*

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz