Cerita Ramadan Dari Utara Indonesia Penulis: Kiky Wakano

Puasa pertama jauh dari orang tua dan keluarga tentu sangat berat. Apalagi jika berada di pulau yang berada paling utara Indonesia. Bagaimana ceritanya? Kepoin yuk di tulisan yang satu ini.

Berbahagialah kalian para penganut “pulang-kampung-saat-puasa-pertama” yang bisa menjangkau kampungnya hanya dengan beberapa jam perjalanan darat. Karena sebagai perantau yang kampungnya berada di seberang pulau, pulang kampung dan melakukan ritual puasa pertama bersama keluarga adalah hal yang mewah bagi saya.

Saya tak ingat, kapan terakhir kali saya pulang ke rumah hanya untuk sahur dan buka puasa di hari pertama bersama keluarga. Bisa pulang saat lebaran saja saya sudah sangat bersyukur walaupun itu cuma beberapa hari. Rindu? Tentu saja demikian! Namun, mungkin karena saya telah terbiasa, sehingga hal itu jadi tersamarkan.

Ini memasuki tahun kedelapan saya mengawali bulan Ramadan di kampung orang. Jika setahun sebelumnya saya berpuasa di kabupaten Barru tempat saya magang dan tahun-tahun sebelumnya saya lewatkan di Makassar—tempat saya kuliah, kali ini saya melewati puasa pertama saya di tempat baru lagi. Di satu pulau paling utara Indonesia. Pulau yang tergolong terpencil, terluar dan tertinggal. Pulau Morotai. Tempat saya mengabdikan diri, bekerja selama setahun dan mungkin saja akan bertambah beberapa tahun lagi. Hehehe…

“Jadi sebenernya kita puasanya besok apa lusa sih?”, tanya saya pada Mita—bidan yang tinggal serumah dengan saya.

“Tunggu sidang sebentar malam, Dok.” Saya hanya mengangguk menanggapi jawabannya sembari berpikir, tiap tahun saya selalu berpatokan pada Mama. Jika Mama menelepon untuk membangunkan sahur, artinya puasa dimulai pada hari itu. Hehehe…

Setelah pukul sembilan malam, belum ada juga tanda-tanda akan diadakan salat tarawih, azan isya pun belum dikumandangkan. Padahal, PLN sedang baik hati mengalirkan aliran listrik di desa Wayabula, Morotai malam ini. Secara kan biasanya listrik di desa kami sering sekali padam. Ternyata sidang isbat yang digelar di Jakarta sana belum juga membuahkan hasil, dan berhubung Morotai berada di waktu bagian timur Indonesia, akhirnya malam pertama salat tarawih dimulai pukul sepuluh malam.

Ketika warga kampung biasanya datang beramai-ramai untuk menunaikan salat tarawih berjamaah di masjid di malam pertama, saya justru telah tertidur pulas di dalam kamar—kelelahan—karena hari sebelumnya saya baru saja menikmati liburan menyeberang pulau dengan teman-teman dari Nusantara Sehat seharian penuh.

ramadan di morotai
Ilustrasi kampung di Maluku

Untung saja saya telah menyetel alarm di ponsel sehingga bisa terbangun saat waktu sahur. Saat keluar kamar, rumah masih sangat sepi. Belum ada yang bangun ternyata. Jadi saya berinisiatif ke dapur dan berencana untuk memasak. Namun sialnya, saya baru sadar bahwa tak ada lagi ikan ataupun sayur yang bisa diolah. Ah, kemarin saking capeknya, saya dan Nurul—dokter gigi teman serumah saya—tidak sempat membeli bahan makanan apapun. Untung saja masih ada beberapa butir telur di rak piring.

“Semalam pulang tarawih jam berapa, Di?” saya bertanya pada Adi—radiografer yang juga tinggal serumah dengan saya—yang baru saja keluar dari kamarnya yang terletak tepat di samping dapur. Matanya dikelilingi warna hitam khas orang yang tak lelap dan kurang tidur. Sepertinya ia pulang larut semalam.

“Jam satu, Dok,” jawabnya sambil menguap. Agak kaget, saya jadi bertanya-tanya apakah tarawihnya dua puluh satu rakaat dengan surat yang panjang atau mungkin ceramahnya yang lama. Atau mungkin salat tarawih di Morotai ini memang selalu seperti itu tiap malamnya? Padahal selama ini, bulan-bulan Ramadan yang saya lewatkan di beberapa kota berbeda dari Papua hingga Sulawesi, salat tarawih paling lama usai hanya sampai pukul setengah sepuluh malam.

“Bukan begitu, Dok. Cepat saja de pe salat. Tapi yang bikin lama tu karena habis salat dorang tadarus lagi sampe tiga juz. Adi tara enak pulang duluan jadi, makanya Adi ikut sampai selesai.” Saya hanya bisa mengangguk tanda mengerti setelah Adi menjelaskan alasan dia pulang pukul satu dini hari. Hampir saja saya berpikir tidak ikut salat tarawih berjamaah di masjid jika harus pukul satu selesainya.

***

Hari pertama puasa di pulau Morotai berjalan dengan lancar. Azan subuh pukul lima pagi dan magrib pukul enam lewat empat puluh menit. Puasa tidak begitu terasa karena seharian itu hujan turun dengan deras. Coba aja panas terik seperti biasa, pasti dahaga lebih terasa.

Awalnya saya pikir akan sulit mencari makanan ringan seperti kue ataupun es buah untuk berbuka puasa dan berpikir untuk membuatnya sendiri—meskipun saya tak yakin rasanya akan enak. Secara hari-hari biasanya sangat sulit menemukan jajanan di desa tempat saya bekerja. Warga di sana terlalu sibuk berkebun dan melaut sehingga tak ada yang membuka warung untuk menjual makanan. Penjual sayur saja hanya lewat dua hingga tiga kali seminggu. Bahkan jika kita ingin membeli ikan, bisa langsung saja ke pantai dan menunggui kapal nelayan yang baru saja selesai berlayar mencari ikan tanpa harus mencari tempat pelelangan ikan.

Namun, ternyata saat Ramadan tiba, ada lumayan banyak anak kecil yang berkeliling desa untuk menjajakan kue buatan ibu ataupun neneknya di rumah. Saya jadi sedikit bernapas lega karena bisa menyelamatkan orang-orang yang tinggal serumah dengan saya dari keracunan makanan buka puasa yang saya buat. Hehehe…

Setelah buka puasa dan salat magrib, saya dan Nurul kemudian berjalan kaki ke masjid di desa kami untuk menjalankan salat tarawih berjamaah. Jarak antara masjid dari rumah dinas kami tidak begitu jauh, mungkin hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki, namun lumayan bisa mengeluarkan keringat jika kami harus berlari.

Ternyata di sini, selepas salat isya, tak ada ceramah singkat untuk mengawali salat tarawih seperti biasanya. Sekitar sepuluh menit setelah salat isya langsung dilanjutkan dengan salat tarawih delapan rakaat dan witir tiga rakaat, padahal saya selalu menunggu untuk mendengarkan ceramah sebelum salat tarawih mulai. Bisa dibilang, itu adalah bagian favorit saya saat Ramadan tiba.

tarawih di morotai
Suasana sholat tarawih di Morotai

Tapi meskipun itu adalah bagian favorit saya, tentu saja yang paling saya rindukan adalah berkumpul dengan keluarga. Ah, rasanya sudah lama sekali saya bisa berkumpul lengkap dengan kedua orang tua dan adik-adik saya yang masing-masing tinggal di kota yang berbeda. Saya rindu suasana Ramadan di rumah. Saya rindu melerai pertengkaran kedua adik saya yang selalu meributkan hal-hal sepele dan konyol, saya rindu bercakap-cakap dengan Papa selepas tarawih mengenai isu politik terkini sembari mencicipi kue yang mama siapkan untuk kami, kemudian Mama akan menimpali percakapan kami dengan komentar-komentar yang sama sekali tidak nyambung. Saya rindu rumah.

Ah, seharusnya saya tahu bahwa resiko menjadi perantau adalah selalu rindu rumah. Harusnya saya memilih bekerja dekat dengan orang tua saja jika tak ingin homesick. Namun, mungkin saja saya jadi tak punya banyak pengalaman jika hanya berada di tempat yang membuat saya nyaman. Mungkin saja, saya tak akan pernah tahu apa arti pulang, jika tak pernah jauh dari rumah.

Tetap semangat wahai para perantau! Dan selamat menunaikan ibadah puasa!

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz