Denting Kenangan Ramadan Masa Kecil Penulis: Redaksi

Beberapa peserta Kelas Menulis Kepo mengenang kembali kenangan masa kecil mereka berpuasa. Masa-masa yang sungguh berkesan dan penuh cerita.

Ramadan adalah bulan yang spesial bagi umat muslim. Bulan yang berbeda dengan sebelas bulan lainnya. Berpuasa di bulan Ramadan adalah sebuah kewajiban dan itu tiba-tiba mengubah banyak kebiasaan yang biasanya dijalankan di sebelas bulan lainnya.

Ritme yang berubah, kebiasaan yang berganti hingga munculnya kebiasaan-kebiasaan baru. Itulah kenapa Ramadan selalu menjadi bulan yang meninggalkan jejak di benak banyak orang muslim.

Karena berpuasa di bulan Ramadan adalah kewajiban, maka tentu saja kebiasaan ini mulai ditanamkan sejak kecil. Karenanya pula, Ramadan membekas di benak banyak anak kecil yang kemudian bertumbuh dewasa.

“Waktu kecil masih SD baru belajar puasa, jadi puasanya setengah hari. Kalau sudah jam 10 sudah mondar mandir lihat jam, kadang tunggu buka puasa di depan meja makan hadapi makanan yang ditutup tudung saji, sambil lihatin jam sampai tertidur. Nanti dibangunkan nenek baru sadar, yeehhhh sudah buka puasa. He-he-he-he,” Kata Atika, salah satu peserta Kelas Menulis Kepo Angkatan III.

“Kalau bulan Ramadan, yang paling berkesan itu semangat yang dikasih sama mama dan bapak untuk tahan puasa,” kata Mhimi, peserta Kelas Menulis Kepo Angkatan IV. Dari puasa setengah hari, berbuka di siang hari kemudian lanjut puasa sampai sore hingga akhirnya bisa berpuasa seharian penuh.

Mulai belajar puasa di masa kecil adalah pengalaman yang paling berkesan bagi banyak muslim. Merasakan perihnya perut, kerongkongan yang kering dan badan yang lemas adalah sebuah siksaan tersendiri bagi anak kecil yang baru belajar puasa.

Tidak tahan godaan, ada juga anak kecil yang memilih untuk buka puasa diam-diam. Ruris misalnya. Gadis yang sekarang mengabdi sebagai seorang petugas kesehatan dan ikut Kelas Menulis Kepo angkatan II ini mengaku pernah membolos puasa. Mengaku puasa satu hari penuh tapi sebenarnya sudah berbuka diam-diam dengan meminum air sumur.

Hal yang sama juga diakui oleh Enal, salah satu pendamping Kelas Menulis Kepo. Ketika SD Enal mengaku harus berjalan kaki sepanjang satu kilometer dari sekolah ke rumah, dalam kondisi puasa. Kondisi itu tentu saja berat bagi anak sekecil dia kala itu. Karenanya, setiba di rumah dia nyaris tidak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali membaringkan tubuh di kursi panjang yang empuk sambil mata tak pernah lepas dari jam dinding.

“Kalau sunyi, kadang saya mengambil kesempatan minum air tanpa meninggalkan jejak, entah suara langkah atau pun kerincingan gelas. Lalu kembali menatap jarum-jarum yang kian lama berputar saat matahari condong ke barat,” akunya.

Menantikan waktu berbuka puasa adalah perjalanan yang panjang bagi anak kecil. Jarum jam berputar jauh lebih lambat dari biasanya. Beragam cara dilakukan untuk membunuh waktu, mengalihkan pikiran dari kegalauan menanti waktu berbuka puasa.

Salah satu cara yang dipilih untuk membunuh waktu di siang hari di bulan Ramadan adalah berenang di sungai. Hal ini diakui dilakukan oleh Iyan, salah satu pendamping Kelas Menulis Kepo. Tak jauh dari rumah neneknya di kampung, ada sungai yang mengalir. Di sanalah dia dan kawan-kawan sebaya biasa berenang di siang hari, kadang hingga mata memerah karena kebanyakan berenang.

“Kadang sampai dimarahi nenek atau ibu,” kata Iyan. Alasannya, terlalu  banyak berenang ditakutkan anak-anak itu akan menelan air dan tentu saja membatalkan puasa mereka atau minimal membuat puasa makruh.

“Tapi tetap saja itu kelakuan itu dilakukan berulang-ulang. Soalnya nikmat, puasa lagi haus-hausnya, siang-siang pula, berendam di sungai, menyelam sambil minum air, seger. Ha-ha-ha,” kata Iyan.

Lain Iyan, lain Tari. Peserta Kelas Menulis Kepo angkatan pertama ini ternyata punya kesibukan berbeda di siang hari di bulan puasa.

“Waktu SD masih mengaji di rumah imam mesjid. Ngaji dari abis subuh sampai pagi lanjut siang. Angkat air tiga ember sebelum dan setelah ngaji dan sore antar buka puasa ke mesjid,” jawab Tari ketika ditanya pengalaman berpuasa masa kecilnya yang berkesan.

Mengisi tempat penampungan air sang guru mengaji adalah kebiasaan yang sangat khas dan sering ditemui di kampung-kampung. Kebiasaan yang mungkin saja sulit ditemui lagi sekarang.

Ketika sore makin beranjak tua dan waktu berbuka puasa semakin dekat, saat itulah kesabaran anak kecil makin diuji. Makanan berbuka mulai tersaji di atas meja, lengkap dengan minuman dingin yang sungguh menggoda iman. Di saat-saat seperti inilah kadang ada anak-anak yang tak sabar, duduk lebih dulu di meja makan dari anggota keluarga yang lain atau bahkan buru-buru berbuka karena merasa waktu sudah masuk padahal belum.

Sultan A Munandar, peserta Kelas Menulis Kepo Angkatan IV pernah punya cerita yang sama. Ketika waktu berbuka sudah dekat, Sultan yang di masa kecil mengaku lebih senang berbuka puasa di depan televisi sudah mulai mengumpulkan makanan berbuka puasa. Hal terakhir yang diangkutnya adalah air minum dan es jeruk. Karena mengambil terlalu banyak dan takut isinya jatuh dalam perjalanan ke depan televisi, Sultan mengaku mencicipi sebagian isi gelasnya hingga gelas tersebut aman dibawa ke depan televisi tanpa ada isinya yang tumpah.

Setiba di depan televisi, dia baru sadar kalau waktu berbuka puasa belum tiba, padahal dia baru saja mencicipi isi gelasnya.

“Suka ketawa sendiri kalau ingat itu, sadarka ketika kurang lebih tiga menit berlalu dan segera saya muntahkan. Kukorek tenggorokanku dan kumur-kumur ke kamar mandi,” kata Sultan mengingat kembali kejadian tersebut.

*****

Selepas buka puasa maka keriaan lain dari bulan suci Ramadan adalah sholat tarawih. Masjid-masjid akan dipenuhi jamaah, sebagian adalah anak-anak kecil yang tidak tahu kata diam. Mereka berlarian ke sana ke mari, saling mengganggu, kadang berteriak. Di rumah Tuhan mereka sungguh riang, meski kadang mengesalkan bagi orang dewasa.

“Masjid jadi rumah kedua,” kata Ruris menggambarkan kebiasaan anak-anak seumurannya di bulan Ramadan. Selain berlarian, kadang anak-anak itu diberdayakan untuk membersihkan masjid. Dari menyapu, mengepel hingga membersihkan WC. Kadang mereka bahkan tidur di masjid.

“Pernah juga dikejar marbot karena memukul beduk padahal belum masuk waktu sholat,” kata Ruris mengenang kenakalan masa kecilnya.

Bulan Ramadan juga digunakan sebagai kesempatan bagi anak-anak yang di hari biasa tidak terlalu bebas bermain di luar rumah. Ramadan membuat mereka bisa bebas bertemu rekan sebaya dan bermain meski sudah malam. Tarawih digunakan sebagai alasan untuk keluar rumah meski sebagian besar waktu itu dihabiskan untuk bermain bersama teman-teman.

Hal ini diamini oleh Alya dan Afaath. Alya, peserta Kelas Menulis Kepo Angkatan III ternyata bukan anak kecil yang gampang mendapatkan ijin keluar rumah. Pun dengan Afaath, peserta Kelas Menulis Kepo Angkatan pertama. Berdua mereka adalah anak-anak kecil yang karena aturan dari orang tua, tidak bisa seenaknya bermain di luar.

Ramadan membuat mereka punya waktu yang lebih banyak bertemu teman di luar rumah, ketika subuh ataupun tarawih.

“Jadi ada banyak waktu untuk bebas dan bertemu teman-teman. Pas ceramah, malah sibuk jajan dan bermain di luar mesjid,” kata Alya.

“Saya paling suka dengan suasana setelah taraweh, berasa sekali Ramadannya. Banyak orang yang jalan menggunakan busana muslim, orang tua, anak muda juga anak-anak. Para orang tua biasanya terlibat dalam percakapan serius dengan orang tua lainnya, para pemuda nongkrong di dekker-dekker perempatan. Kadang juga main petasan, anak-anak main kembang api. Beberapa lainnya berkumpul sama keluarga, makan bakso gerobak,” kata Iyan.

“Malam hari sepulang tarawih, biasanya melihat orang-orang memainkan meriam bambu. Dalam hal petasan, sampai saat ini saya masih takut untuk membakarnya, apalagi sejak bulu mata  habis oleh jilatan api meriam bambu,” kata Enal juga mengenang masa tarawih di kampung halamannya.

Keriuhan malam-malam Ramadan memang sangat khas dan berbeda dengan malam-malam lainnya. Orang tua akan sibuk menjalankan ibadah di masjid, anak-anak muda nongkrong sambil terkadang menggoda lawan jenisnya, dan anak-anak akan sibuk berlarian ke sana ke mari. Di depan masjid biasanya ada banyak pedagang kecil yang menjajakan dagangan seperti gorengan, beragam manisan buah-buahan hingga makanan yang agak berat seperti bakso atau sup ubi.

Sesekali terdengar suara petasan yang dibunyikan anak-anak atau remaja yang iseng. Sungguh malam yang riuh dan sulit ditemukan samanya di malam-malam lain di luar bulan Ramadan.

Mengingat-ingat kembali Ramadan masa kecil di kampung yang masih jauh dari riuhnya kota sepertinya sangat menyenangkan bagi banyak orang. Masa yang lebih sederhana dengan kenaifan anak-anak yang polos. Ramadan yang selalu dirindukan.

Selamat berpuasa kawan-kawan. Semoga ibadah kita lancar dan diridhoi oleh-Nya.

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz