Magis Sang Legenda Syamsul Chaeruddin

Hingga pekan ke 12, PSM Makassar tak pernah kalah ketika Syamsul Chaeruddin ada dalam daftar susunan pemain. Baik itu dimainkan atau hanya jadi pemain cadangan. Sepertinya sang legenda hidup PSM itu punya daya magis. Tak percaya? Coba kepoin artikel ini.

Kerinduan para pendukung PSM Makassar untuk menyaksikan sang legenda, Syamsul Chaeruddin berlaga, harus tertunda sampai pekan ke 13 ketika Robert Rene Albert menurunkannya pada laga melawan PS. Bhayangkara.

Terhitung sejak pulang dari kandang Perseru Serui, pemilik nomor punggung 8 ini, tak lagi masuk dalam Daftar Susunan Pemain (DSP). Saat melawat ke markas Persib Bandung, Robert tak juga menyertakan Syamsul Chaeruddin. Jangankan untuk bermain, duduk di bangku cadangan pun, ia tak diberi kesempatan. Sangat ironis bagi pemain yang secara stamina, masih mampu bersaing minimal jadi pelapis.

Jika kita lebih cermat melihat statistik pertandingan selama ini, ada fakta yang menarik tentang pemain yang akrab disapa Daeng Sila ini. Setiap Syamsul masuk DSP, main atau tidak, PSM Makassar tidak pernah menderita kekalahan. Entah keberuntungan atau apa pun, sebab faktanya memang seperti itu.

Hal seperti ini yang oleh Robert Albert sepertinya kurang jeli melihatnya. Sang arsitek pun tak bisa sepenuhnya disalahkan, toh kita tahu bahwa ia adalah seorang tactician yang paham betul pada kebutuhan tim. Apalagi penampilan tiga pemain muda, Asnawi Mangkualam, M. Arfan, dan Nurhidayat, yang begitu moncer belakangan ini. Jangankan Syamsul, Rizky Pellu yang notabene langganan Timnas, juga jarang mendapat kesempatan bermain.

Musim lalu, Robert sempat mengomentari permainan Syamsul. Menurutnya, alumnus Makassr Football School (MFS) itu, memiliki stamina di atas rata-rata. Sayangnya ia tak mampu mengefisienkan kelebihan tersebut. “Syamsul terlalu banyak menghabiskan tenaga dengan berlari ke sana-ke mari. Padahal jika ia mampu lebih cerdik melakukan pergerakan, tentu itu akan lebih baik, apalagi usianya yang tak lagi muda.” Ujar Robert saat itu.

Pernyataan eks pelatih Arema tersebut, menjadi gambaran bahwa ia senang dengan pemain yang mampu tampil taktis. Marc Anthony Klok yang mengisi pos—yang beberapa musim belakangan ini—Syamsul, memang sepintas bermain seperti Syamsul. Itu jika dilihat sepintas. Padahal jika dilihat dengan saksama, kesamaan mereka hanya terletak pada kemampuan bergerak saat bertahan dan menyerang yang sama baiknya. Kelebihan lain yang dimiliki pemilik nomor punggung 10 di PSM itu, terletak pada reading the game-nya. Kemampuan membaca permainan itulah yang membuat kita selalu melihat Marc Klok, nyaris selalu terlibat dalam permainan. Baik saat memotong serangan mau pun membangun serangan.

***

Sejak mengawali karir bersama PSM Makassar, pada musim 2001-2002, Syamsul langsung mencuri perhatian. Kemampuan untuk terus berlari sepanjang pertandingan, membuat pemain yang identik dengan rambut gondrong ini, terlihat begitu menonjol. Tak ayal jika seragam Timnas baik junior mau pun senior, langsung diganjarkan kepadanya.

Era keemasan pria kelahiran Kabupaten Gowa itu, terjadi pada tahun 2003—2010. Bersama Ponaryo Astaman, ia bahu-membahu menggalang kekuatan di lini tengah, baik saat mereka di PSM mau pun di Timnas.

Selama beberapa tahun, Syamsul jadi idola publik sepakbola Sulawesi Selatan. Dia mampu mengobati kerinduan pendukung PSM, untuk melihat putra Tanah Daeng berseragam Timnas. Bahkan, jika pada medio 2003—2010, Anda bertanya pada bocah yang sedang berlatih sepakbola di Makassar, tentang apa tujuannya bermain sepakbola, tentu mereka dengan enteng menyatakan: Saya ingin seperti Syamsul Chaeruddin. Ya, selain jadi ikon, pemain bertinggi 166 cm itu, telah menjadi alasan mengapa mereka ingin menjadi pesepakbola. Mau bukti?  Coba tanyakan sendiri pertanyaan tersebut kepada M. Arfan.

Meski telah belasan tahun memperkuat PSM, belum sekali pun suami dari pedangdut Ika KDI itu, mempersembahkan gelar Liga Indonesia untuk tim Juku Eja. Sesuatu yang bisa saja membuatnya jadi penasaran seumur hidup saat kelak gantung sepatu. Tak berlebihan memang, mengingat betapa cintanya Syamsul pada PSM. Sungguh tidak layak jika pemain sekaliber Syamsul, pensiun tanpa menyandang gelar juara Liga Indonesia.

***

Syamsul Chaeruddin, sang legenda hidup PSm - foto bola.rakyatku.com
Syamsul Chaeruddin, sang legenda hidup PSM – foto rakyatku.com

Apakah persyaratan untuk menjadi seorang legenda untuk sebuah tim? Jika jawabannya loyalitas, rasa cinta, dan kebanggaan, maka tak usah sangsi pada seorang Syamsul Chaeruddin.

Cobalah sesekali datang dan melihat langsung suasana latihan PSM. Betapa sang legenda terus dominan perkara semangat dalam berlatih. Bahkan saat mengukur VO2MAX atau daya tahan seorang pemain, Syamsul masih mencatatkan namanya sebagai yang terbaik. Sungguh luar biasa bagi pemain yang sudah berusia 34 tahun. Dan, itu hanya dapat dilakukan oleh pemain yang punya loyalitas tinggi untuk tim.

Rasa cinta. Kepergian Syamsul, pada tahun 2010, baik saat ke Persija mau pun ke Sriwijaya FC, adalah hal yang sangat disayangkan oleh para pecinta PSM. Namun, pernahkah Anda memikirkan alasannya untuk meninggalkan PSM saat itu? Sudah bukan rahasia umum jika kerap manajemen di era-era itu, tak berlaku adil untuk pemain lokal. Loyalitas dijadikan alasan untuk mengurangi hak pemain. Tentu pemahaman yang dangkal, sebab kebutuhan dan risiko pesepakbola yang begitu tinggi. Di luar itu, barangkali ada hal lain yang jadi pertimbangannya untuk merantau. Toh pada akhirnya rasa cinta membawanya kembali dan berikrar untuk terus di PSM hingga pensiun.

Perihal kebanggaan. Apakah Anda menyaksikan video saat pertama kalinya anthem Jayalah PSM dikumandangkan? Saat para pemain bersama para pendukung PSM menyanyikan lagu tersebut, Syamsul hanya diam. Ada sesuatu yang coba ia tahan. Matanya nanar melihat seisi stadion. Sang legenda dengan sekuat hati menahan haru, untuk tak meneteskan air mata. Kita tentu masih ingat, bagaimana ia menangis saat poin PSM dirampas wasit di Samarinda. Tangis yang mungkin akan kembali pecah ketika ia mampu membawa PSM ke tangga juara Liga Indonesia.

***

Dari cerita seorang teman, yang ada di samping bench pemain kala PSM harus tunduk dari Semen Padang di kandang sendiri. Begitu pertandingan berakhir, Syamsul membanting botol air minum dan memaki para pemain PSM: “Tidak ada semua paccemu main bola.”

Fragmen itu yang mungkin jadi alasan, bagaimana Syamsul mampu memotivasi para pemain agar terus berjuang dan jangan sampai kalah. Meski ia sendiri tak dimainkan, toh peran seperti itulah yang membuat Syamsul tetap “ada” di dalam lapangan. Tak heran jika selama ia ada di dalam DSP, PSM tak pernah kalah.

Pun, ketika akhirnya sang pelatih menurunkannya pada pertandingan melawan PS Bhayangkara pada pekan ke 13 Liga 1 Gojek Traveloka, Syamsul Chaeruddin membuktikan bahwa ia belum habis. Sebuah gol dari tendangan voli ia lesakkan pada gawang Awan Setho. Gol itu sekaligus jadi gol pembuka pada pertandingan yang berakhir dengan kemenangan PSM, 2-1.

Syamsul Chaeruddin adalah wujud nyata dari makna siri’ na pacce. Dan, PSM adalah bagian dari diri Syamsul. Kelak, tak hanya Syamsul, kita pun bisa jadi ikut menitikkan air mata, saat sang legenda mengakhiri kariernya dengan mencium logo PSM Makassar di dadanya.

Ewako Syamsul!

oleh Adnan Ilham, seorang pesepakbola profesional muda yang memilih gantung sepatu lalu menekuni dunia tulis-menulis dan fotografi.

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz