Ibu, Jalangkote dan Ramadan Penulis: Lelaki Bugis

Ibu adalah sosok yang tangguh, sosok pertama yang dikenal setiap anak. Beberapa Ibu bahkan berjuang jauh melebihi yang bisa dibayangkan. Kisah ini salah satunya. Kepoin yuk

 

IBU. Semenjak kepergian ayah empat belas tahun silam, ibu otomatis jadi orangtua tunggal bagi kami empat anaknya.

Saya tak akan sanggup menuliskan bagaimana beliau bangkit setelah keluarga kami terpuruk, dalam kesedihan dan juga materi. Tabungan tak bersisa. Isi toko kelontong kecil kami terkuras. Semua demi biaya pengobatan ayah. Perjuangan ibu sebagai orang tua tunggal tak bermula dari kepergian ayah tapi hampir setahun sebelumnya, saat ayah mulai menderita sakit berkepanjangan. Selain merawat ayah, Ibu juga harus tetap membanting tulang dan memeras pikiran bagaimana toko kelontong sumber kehidupan kami tetap berjalan.

Sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, ekonomi keluarga kami mulai membaik. Bermodalkan kepercayaan, toko-toko grosir dan distributor menitipkan barang mereka tanpa jaminan sepersenpun. Tanpa pembayaran di muka sebagaimana biasanya. Dengan cara itulah, toko kami mulai terisi kembali dan Ibu mampu membiayai kehidupan dan pendidikan kami.

Jangan tanyakan padanya teori berdagang atau ekonomi padanya. Beliau hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 (dua) sekolah dasar tapi jangan pernah meragukan kemampuannya berhitung. Semua ia dapatkan dari pengalaman hidup. Mulai sejak mendampingi ayah yang punya lods beras di Pasar Terong hingga harus berjuang sendiri menjalankan toko kelontong kami sejak kepergian ayah.

Dari toko kelontong kecil itu, Ibu berhasil menyekolahkan kami, anak-anaknya. Saya dan adik perempuan saya berhasil mencapai gelar sarjana. Dua adik lelaki saya, satu kini menempuh pendidikan strata satu dan si bungsu kini kelas satu sekolah menengah atas.

Satu yang saya yakini, bahwa cintalah yang membuat Ibu menjadi perempuan setangguh itu. Cinta pada ayah dan juga pada kami.

Ibu menikah pada usia sangat belia, 13 tahun. Beliau bahkan belum haid saat itu. Sementara ayah, yang menikahinya, berusia 17 tahun. Bagi ayah, pernikahan dengan Ibu adalah pernikahan kedua setelah ia menceraikan istri pertamanya. Istri pertama ayah menuduhnya sebagai anak PKI. Tuduhan sebagai anak PKI pada jaman itu, di tahun 70an awal, tentulah bukan hal main-main sehingga ayah rela menceraikan istrinya.

Saat ayah berpulang, Ibu masihlah muda. Usia saya saat ayah meninggal adalah 24 tahun. Usia saya dan ibu terpaut 16 tahun. Seperti kakak-adik. Saya lahir tepat pada 3 (tiga) tahun pernikahan ayah dan Ibu. Tanggal dan bulan kelahiran saya sama persis dengan tanggal dan bulan pernikahan mereka. Pernah saya mendapati undangan pernikahan mereka yang berupa kertas dengan ukuran amplop terkecil, nama mereka ditulis dengan mesin ketik. Sayang sekali, saya menghilangkannya.

Menyandang status janda di usia yang belum tua, ditambah beban harus menghidupi dan menyekolahkan empat orang anak, tentulah bukan perkara mudah. Satu dua kali saya mendengar kabar ada lelaki yang ingin menikahinya. Semuanya ia tolak. “Tak ada yang bisa menggantikan bapakmu” kalimat yang sering saya dengar jika ia sedang mengenang ayah.

Sering kali saya dapati sorot mata kerinduan setiap kali ia bercerita tentang masa-masa awal pernikahan mereka. Ibu begitu mencintai lelaki yang menikahinya tanpa ia kenal sebelumnya. Mungkin hampir setahun usia pernikahan mereka sampai Ibu rela disentuh ayah. Setelah ayah berpulang, tak seorang pun lelaki yang mampu menyentuh hati Ibu.

*****

JALANGKOTE. Masa-masa sekolah menengah atas hingga tamat kuliah dan beberapa tahun setelahnya, lebih banyak saya lewatkan di luar rumah. Dalam seminggu, mungkin hanya satu-dua hari saya ada di rumah. Itu pun hanya untuk membawa pakaian kotor ke rumah dan mengambil pakaian bersih untuk kemudian pergi lagi. Saking jarangnya di rumah, suatu saat ketika saya tinggal di rumah agak lama, ayah pernah bertanya begini “Apa masalahmu? Kenapa sudah seminggu kau ada di rumah?”

Setelah menyelesaikan kontrak dengan salah satu International Non Government Oganization (INGO) pada tahun 2012 saya memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah. Beberapa tawaran, meski dengan gaji menggiurkan, terpaksa saya tolak karena mengharuskan saya tinggal di luar kota. Saya ingin benar-benar membayar ketidakhadiran saya di rumah. Dalam setahun, hanya terhitung dengan jari jumlah saya bermalam di luar rumah. Kecuali, ada pekerjaan atau tawaran perjalanan ke luar kota. Selebihnya, saya upayakan untuk pulang dan tidur di rumah.

Sejak saat itulah, saat di mana saya mulai betah di rumah, jalangkote hadir pada hampir setiap pagi. Penganan yang serupa pastel, -bedanya ada pada isi dan kulit yang lebih tebal, selalu menjadi sarapan saya. Tak begitu tepat sebenarnya sarapan, karena biasanya saya bangun sekira pukul sembilan. Saya tak ingat persis sejak kapan Ibu rajin menyiapkan jalangkote untuk saya. Yang jelas, setiap hari saat saya bangun jalangkote sudah tersedia di meja ruang tamu kami.

Jalangkote

Tentu bukan Ibu yang buat, kesibukannya mengurus toko kami sangat menyita waktunya. Namun, ia jarang sekali alpa membelikan saya jalangkote. Hampir setiap hari. Jalangkote tak hadir di meja ruang tamu kami hanya bila tetangga yang menjualnya tak berjualan. Atau, pembuat jalangkote tak datang menitipkan jalangkotenya.

Tak terasa hampir empat tahun jalangkote hadir sebagai menu –anggaplah- sarapan bagi saya yang tak terbiasa makan makanan berat di pagi hari. Kebiasaan itu akhirnya menjadi semacam kebutuhan. Setiap pagi aneh rasanya bila tak menyantap sebiji dua biji jalangkote. Untunglah kebiasaan itu tak terbawa jika saya tak bermalam di rumah.

*****

RAMADAN. Kesukaan makan jalangkote itu rupanya menurun pada si bungsu. Saya ingat pada buka puasa pertama tahun lalu, Ia memaksakan diri untuk mencari jalangkote. Hari itu Ibu memang tak menyediakan jalangkote sebagaimana biasanya. Selama bulan Ramadan, jalangkote hadir saat kami berbuka puasa.

Si bungsu tak mau menyerah begitu saja. Selepas meneguk air untuk membatalkan puasanya, ia keluar untuk mencari jalangkote. Saya yang biasanya tak mengijinkan ia mengendarai motor, -mengingat usianya yang belum 17 tahun,- kali ini tak kuasa melarangnya. Bersama motor tua kakek, ia mencari jalangkote.

“Deh, tidak ada yang jual di Rappocini. Di Banta-bantaeng pi baru dapat ka” ujarnya sambil menyodorkan kantongan hitam.

Rupanya, tak banyak penjual jalangkote yang berjualan di hari pertama puasa tahun itu. Maklumlah, mereka sepertinya memilih meliburkan diri di hari pertama puasa. Saya hanya mengambil satu biji begitu melihat isi kantongan yang hanya ada empat biji jalangkote. Itu pun karena saya tak kuasa menahan godaan untuk tidak ikut melahapnya. Pagi hari, ia alpa menjumpai kami sebagaimana mestinya karena bulan puasa.

Hari pertama Ramadan tahun lalu jatuh pada 6 (enam) Juni. Hari lahir seorang Soekarno, Bapak Proklamator Kemerdekaan bangsa ini. Tanggal dan bulan yang sama tertera di Kartu Tanda Penduduk (KTP) Ibu.

Dini hari saat tiga anak lelaki Ibu, -anak perempuannya sudah tiga bulan mengikuti suaminya,- mengelilinginya bersantap sahur pertama tak seorang pun dari kami yang mengingat bahwa hari itu adalah hari ulang tahun Ibu. Beliau sendiri tak yakin bahwa hari lahirnya jatuh setiap tanggal 6 Juni. Tapi begitulah yang tertera di KTP-nya.

Pun, Keluarga kami memang tak mengenal perayaan ulang tahun meski Ibu selalu ingat semua tanggal kelahiran anak-anaknya. “Bertambah lagi umurmu dih hari ini” hanya ucapan itu yang biasa kami dengar setiap tiba hari pengulangan hari kelahiran kami. Tanpa ucapan selamat ulang tahun, apalagi ritual meniup lilin.

Meski Ibu sendiri tak yakin akan kapan hari ulang tahunnya dan tak ada perayaan ulang tahun di keluarga kami, tetap saja saya merasa bersalah tak mengingat hari ‘istimewa’ itu saat kami bersantap sahur. Saya justru mengingatnya ketika teman-teman ramai mengucapkan selamat ulang tahun pada saya setelah melihat pemberitahuan di akun Path saya. Padahal, sejatinya saya mengatur tanggal itu untuk mengingatkan saya pada ‘hari lahir’ Ibu.

Ah, Ibu, Ramadan dan jalangkote memang paket yang sangat komplit untuk membuat saya jadi lebih melankolis. Seperti biasa, saya hanya sanggup mengirim doa ucapan selamat ulang tahun untuk Ibu. Semoga kesehatan dan keberkahan selalu mengiringi hari-harimu. Panjang umurlah hingga tiba saat kami mampu melunasi mimpi-mimpimu.

Amin.

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Mefta
Guest
Mefta

Antara jalangkote dengan sejarah hidupmu theys

Lelakibugis
Guest

Iya kak Alex.. Hidup saya tak bisa lepas dari Jalangkote.

wpDiscuz