Kaca Berdebu di Mata Opu Penulis: Rara Rahmawati

Seseorang yang pergi akan selalu meninggalkan kenangan. Punya benda yang mampu membangkitkan kenangan tentang seseorang? Di bawah ini ada tulisan tentang sebuah benda yang menjadi pembangkit kenangan seorang cucu kepada neneknya. Ayo, dikepoin.

—–

Selain pigura hitam putih yang bermukim di lemari pakaian dan sedikit lembar sarung di dalam peti baju, tidak ada kenang-kenangan dari sosok Opu, ibunda Ayah. Gaun pesta, perhiasan, dan barang-barang antik miliknya dihibahkan bagi handai taulan, setelah beliau pergi tujuh tahun silam. Belasan tahun menetap dan tidur di kamar yang sama, Opu sama sekali tidak menuliskan warisan apapun untukku, cucu pertamanya . Sebelum kepergiannya, beliau hanya menitip pesan untuk menjaga rumah baik-baik. Jadilah rumah adalah benda fisik tunggal yang saban tengah malam menjadi tempat pulang.

Sayangnya, ada kepemilikan lain yang Opu lupa awasi. Bahkan, kerabat luput menyortirnya. Padahal, benda ini lekat di hidup beliau ketimbang sarung batik kesayangannya semenjak penglihatannya mulai merabun. Kacamata berlensa milik Opu yang kutemukan tersembunyi  dalam kotak hitam di bufet televisi.

Sebulan berlalu sejak malam tausiah berakhir dan keluarga satu demi satu kembali ke pusaran dunia masing-masing, mencoba lupa pada kematian barusan. Sesekali mereka berkunjung ke ruang tamu membawa kata penghibur juga rasa sedih yang berangsur-angsur pudar. Lebih sering kutontoni barang diangkut sampai lemari Opu nyaris melompong. Hari itu rumah nihil kunjungan.

Lelah bergelung di tempat tidur dengan bantal basah dan bau obat-obat Opu yang belum sempat beliau habiskan, aku memilih bangun membenahi kamar, sekalian menata ulang dekorasi rumah, hitung-hitung melaksanakan amanah Opu. Di bufet televisi yang tersudut di kamar, benda-benda kecil teronggok berdebu. Termasuk kacamata Opu.

Alam bawah sadar seketika terdistraksi ke masa lalu yang di dalamnya ada imaji Opu awal memakai kacamata berlensa, menyamarkan kaca-kaca di matanya. Tempo hari Opu datang ke rumah lengkap dengan kotak kecil persegi panjang berbentuk nyaris oval di tangannya. Setelah sore itu, baru aku sadar usia mulai memakan masa-masa muda Opu, kejelasan penglihatan mata ada di dalamnya.

Opu kerap kali berkacamata di hampir semua aktivitas, mulai dari menjaga warung yang ramai anak kecil membeli sebungkus permen, tadarus selepas subuh hingga menjelang duha, sampai memarahi cucu-cucunya yang bandel bermain terlalu jauh dari jangkauan. Kadang kala siluet Opu dengan kacamata terlihat menambal daster hijau batik di depan jendela, saat petang terjaga. Sebelum berangkat ke pembaringan, kacamatanya terlebih dahulu beliau sampirkan di samping televisi Panasonic 14 inci agar mudah ditemukan kembali di sepertiga malamnya. Sesekali beliau ke pasar bersarung batik sambil menenteng keranjang belanjaan plastik di tangan kiri dan tangan mungil cucunya di genggaman tangan kanan.

Mata Opu mengandung sendu bercampur rahasia, tetapi tiap menatap ke dalamnya ada ketulusan yang dipancarkan begitu banyak. Meski lensa kacamatanya tebal, kebaikan yang menghuni matanya tetap sama.

Kendati kejernihan terus ada, tetapi kesehatan matanya mulai takluk pada senja. Kacamata adalah penyerahan diri Opu secara simbolis kepada waktu sekaligus lambang perlawanan terhadap sesuatu yang membatasinya bergerak dinamis seperti hari-hari lalu. Nyaris bersamaan dengan kehadiran kacamata di hidupnya, penyakit-penyakit juga mulai menyambangi tubuh Opu. Akan tetapi, Opu memang perempuan kuat. Seperti kacamata pada rabunnya, beliau berikhtiar penuh mengendalikan kekuatan-kekuatannya yang tersisa pada dirinya dengan resep dokter hingga pengobatan alternatif. Sampai di akhir usaha, beliau tetap menyimpan kacamatanya di samping televisi Panasonic 14 inci, sampai tidak ada lagi sepertiga malam yang bisa beliau dapatkan. Mata beliau telah tertutup walaupun kacamata berlensa tetap tersimpan rapi dalam kotak hitam persegi panjang berbentuk lonjong.

Lewat tujuh tahun, kacamata milik Opu masih di kotak yang sama. Tersimpan rapi di antara tumpukan pakaian lama. Sesekali jika sedang betah di rumah, aku membongkar barang-barang lama hanya sekadar untuk menghidupkan kenangan. Terutama kacamata Opu membutuhkan kain khusus mengelap lensanya. Dengan cara ini, selalu timbul ingatan tentang mata yang dulu ada di balik kaca berdebu itu.

 

Catatan:

Opu : kosakata yang digunakan oleh masyarakat Kepulauan Selayar untuk menggantikan kata nenek.

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz