Nurjannah: Merintis Sekolah Pertama di Dusun Bara Penulis: Rara Rahmawati

Nyaris umurnya belum genap 20 tahun. Tamat kuliah pun belum. Tapi tekadnya tidak surut. Dua tahun ke belakang, 2015, ia memberanikan diri membangun sekolah pertama sejak Dusun Bara mulai dihuni puluhan tahun silam. Jalannya kokoh saban hari menembus perbukitan sepanjang Bontoparang dan Bara. Demi melihat senyum anak-anak. Yuk, ikuti kisah Ibu Nurjannah selengkapnya.

Sepanjang jalan hanya dipenuhi tanah berlumpur campuran hujan dan pembangunan yang tak kunjung selesai. Tanaman liar hijau memagari kiri kanan jalan, menyimpan rahasia alam yang belum terjamah. Pemukiman warga saling berjarak, menciptakan ruang kosong di hamparan pandangan. Sesekali terdengar suara-suara asing dari dalam hutan rimbun, ditingkahi kecipak hujan dan derum kendaraan roda dua yang menggema. Di balik semua itu, tak dinyana hidup jelmaan Ibu Muslimah. Sang guru Laskar Pelangi yang merintis sekolah pertama dan satu-satunya di Dusun Bara yang terpencil. Namanya Ibu Nurjannah.

Satu siang hari yang mendung di Desa Bontoparang, Maros, seorang perempuan berkaos oblong sedang duduk di serambi depan sebuah rumah panggung kayu. Kursi panjang tempatnya duduk juga terbuat dari kayu, berdampingan langsung dengan tangga rumah. Hujan di luar kadang-kadang mereda sejenak, lalu kembali menderas. Si perempuan tadi, yang berkulit campuran sawo matang dan kuning langsat, menunjukkan raut wajah harap-harap cemas.

Rupanya dia sedang menunggu rombongan dari kota yang berjanji akan tiba di rumahnya sekitar pukul dua siang. Tiba-tiba keheningan dipecah oleh gemuruh mesin bermotor dari kejauhan. Beberapa saat kemudian, 15 buah sepeda motor memasuki areal halaman depan. Rombongan itulah yang ia nanti-nanti sejak tadi.

Kelompok yang berjumlah 29 orang tersebut datang dari Makassar. Mereka mengenalkan diri sebagai bagian dari komunitas Koin Untuk Negeri. Dari sini, mereka sudah harus memarkir kendaraannya. Sebab, Dusun Bara yang merupakan tujuan sebenarnya, masih jauuuuh ke atas. Hanya berupa jalan setapak yang harus ditempuh berjalan kaki menyisiri punggung perbukitan di areal Kecamatan Tompobulu, Maros. Dihitung dari Bontoparang, Dusun Bara berada di sebelah bukit yang tidak tampak di depan mata.

“Ayo, masuk ke rumah”, dengan wajah berseri dia menyambut di depan pintu. Menyilakan orang-orang masuk ke bagian dalam rumah yang lebih hangat. Sebagian beranjak masuk, sebagian lain menepi ke kursi panjang yang masih kosong.

“Ini namanya Kak Jannah”, salah seorang anggota rombongan menyebut nama si perempuan tadi, sontak kami mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Ruang Kelas I dan II

Tidak lama berselang, perjalanan kami lanjutkan demi menghindari malam. Kak Jannah memandu kami naik ke Dusun Bara. Melewati beberapa dusun kecil, menerabas hutan, dan menaiki tanjakan terjal dan turun lewat turunan curam. Hari itu perjalanan ditambah bonus jalan licin berlumpur. Walhasil, perjalanan yang dimulai jam 4 sore, berakhir saat hari benar-benar gelap ditelan malam. Jauhnya aral melintang sepadan dengan suguhan penampakan gunung-gunung Maros berlatar langit abu-abu bersih dan awan tebal gelap yang mengandung titik-titik hujan. Aroma rerumputan basah dan daun hijau semakin melengkapi kesenduan. Bau keringat bercamput tetes air yang bersimbah di wajah menyiratkan letih.

Lika-liku setapak ini biasanya dilalui Kak Jannah seorang diri, dengan waktu normal satu jam saja. Padahal kami nyaris menghabiskan empat jam sebelum tiba ke rumah Kepala Dusun Bara, tempat kami menginap empat hari ke depan. Perjalanan epik Kak Jannah menembus Bontoparang-Bara hanyalah satu dari seabrek konsekuensi yang diterima dengan senang hati sebagai seorang pengajar di satu-satunya sekolah di Dusun Bara. Lebih jauh lagi, dialah orang yang merintis sekolah itu hingga bisa berdiri sejak tahun 2015 lalu.

Sementara beberapa di antara kami mulai meraba-raba jalan di dalam gelap sembari mengeluh dalam hati dan menebak-nebak jarak, Kak Jannah yang telah khatam setiap persimpangan di depan dengan tabah menjejeri langkah kami yang tertatih.

Kami tak habis pikir bagaimana seorang perempuan desa kelahiran 25 September 1997 itu berpikir untuk mendirikan sekolah. Kali pertama melihatnya, kesannya seperti mahasiswa semester akhir berusia awal 20 tahunan. Ditunjang tinggi badan 150 cm, berat sekitar 45 kg, dan wajah polos tanpa riasan, Nurjannah, layaknya figur pelajar mahasiswa dengan cerita yang biasa-biasa saja. Tapi siapa sangka sosoknya menyimpan cerita yang mampu membuat kami tercengang begitu rupa.

Aktivitas mengajar Ibu Nurjannah

Kak Jannah menduduki bangku sekolah dasar di usia dua tahun. Kendati terlalu dini untuk seusianya, dia begitu ingin ikut belajar. apalagi kala itu dia sudah lancar membaca dan menulis. Jadilah dia mengenyam enam tahun pendidikan dasar di SD Bontoparang, desanya sendiri. Selepas lulus SD, dia mengunyah ilmu di tempat yang lebih jauh. Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) DDI Sakeang menjadi tempatnya melewatkan masa remaja.

Menamati jenjang sekolah menengah, sebagian besar lulusan biasanya mulai disibukkan aktivitas persiapan masuk perguruan tinggi favorit atau bergengsi. Sebagian lagi ada yang menanti lamaran dari jodoh, ada pula yang membawa lamarannya ke dunia kerja. Namun Kak Jannah, setamat dari MA Sakeang, mulai menggarap mimpi besarnya: membangun sekolah. Sebelia itu, dengan berani ia melangkahkan kaki ke Kantor Yayasan Darud Da’wah wal Irsyad tempatnya bersekolah, untuk mengutarakan niatnya. Gayung bersambut, Kepala Yayasan menyalakan lampu hijau baginya.

Dipicu adrenalin tinggi, Nurjannah menjajaki Kantor Desa, menghadap ke Kepala Desa Bontoparang demi permohonan izin dan pengurusan administrasi. Tak sampai disitu saja, dia pun bertatap muka dan berdiskusi bersama warga Dusun Bara. Tentu saja gagasan briliannya disambut ledakan persetujuan dimana-mana. Bukan main, sejak dusun itu resmi dihuni puluhan tahun silam, belum satu biji batako atau sebatang kayu pun yang diniatkan sebagai pembangunan gedung sekolah. Hingga kemudian beratus kepala keluarga mulai menikmati pembangunan di dusun, masuknya listrik ke rumah-rumah warga dan kantor-kantor aparatur pemerintah desa setempat, belum pernah sekalipun ada inisiatif menyiapkan petak tanah anak-anak belajar. Bergenerasi keluarga mendekam dirundung kegelapan buta huruf, sampai kemudian Nurjannah menghidupkan sebuah pelita bernama sekolah.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada dana segar, wakaf pun siap. Kak Jannah bukanlah seorang filantropis. Dia hanya sekadar mengantongi izin pendirian sekolah di bawah naungan DDI dengan dana minimum. Itupun rasanya mustahil tercukupi terbangunnya satu gedung sekolah permanen. Beruntung, warga dusun merelakan tanah seluas kurang lebih 2 hektar sebagai tanah sekolah. Sebagian lain menyumbangkan material mentah seperti kayu, seng, dan bahan-bahan lain. Bergotong royong mereka membangun tonggak pendidikan pertama di dusun.

Sekarang gedung sekolah itu telah berdiri tegak meski masih dipenuhi kekurangan. Luas ruangan 6×12 meter terbagi ke dalam tiga kelas yang dibatasi dinding dari seng. Ketiga ruang kelas ini dihuni secara paralel oleh siswa kelas 1-6 MI dan kelas 1 MTs dengan total lebih dari 100 orang siswa. Bangku-bangku dari kayu yang mulai melapuk mengisi setiap ruang kelas. Papan tulis bernoda hitam terpancang di depan kelas. Tanpa adanya pintu, serta rongga antara atap dan dinding memberi keluasan pada angin gunung keluar masuk kelas, pendingin alami. Di luar gedung, lapangan sekolah yang lapang bermandikan sinar matahari yang terasa begitu dekat. Dua batang pohon pinus tegak seperti mercusuar di tengah-tengah tanaman liar. Pegunungan jelas nampak di tepi horizon.

Mendirikan sekolah adalah satu hal. Mengurus keberlangsungan proses belajar mengajar adalah hal lain lagi yang tidak kalah beratnya. Setelah memakan waktu 2 tahun dari proses awal hingga selesainya sekolah, Kak Jannah kembali menguras otak memikirkan pasokan tenaga pengajar yang siap ditempatkan di MI DDI Bara. Akses yang ekstrem, kenihilan jaringan ponsel, keterbatasan sarana, dan jauhnya segala kemudahan, membuat orang-orang berpikir seribu kali sebelum mengiyakan mengajar apalagi menetap di dusun ini. Beberapa kali Kak Jannah mengajak rekannya menjadi guru bagi anak-anak di sekolahnya. Alih-alih betah, mereka malah “angkat bendera putih” dan kapok datang lagi karena satu alasan: tidak sanggup berjalan jauh.

Suguhan pemandangan di sepanjang jalan Dusun Bara

Mau dikata apa lagi, Nurjannah dengan hati lapang dan tekad besar mengajar bergantian dari satu kelas ke kelas lain yang dirapel. Seringkali anak-anak terpaksa diliburkan tiap Senin dan Sabtu sebab ia mesti turun ke kota (baca: ke Makassar) untuk berkuliah di STAI DDI Makassar di hari Sabtu dan Minggu. Pernah sewaktu masa KKN (Kuliah Kerja Nyata), sekolah berhenti beroperasi selama dua bulan sebab dia harus selalu tinggal di posko. Keterbatasan waktu ini kadang membuatnya begitu gundah.

Meski segala bentuk hambatan terus merintangi arahnya, tak sekalipun Kak Jannah menyerah. “saya kan sakit ginjalku, jadi biasa kalo sudah capek jalan, nda bisa sekali mi kutahan sakitku, tinggal tinggal ka dulu di rumah sampai agak baikan”, terangnya.

Selama empat hari para relawan menghabiskan waktu dalam kegiatan Sekolah Jejak Nusantara bersama anak-anak sekolah di Dusun Bara yang dingin. Selama itu pula, Nurjannah dengan telaten menerangkan hal-hal asing bagi kami. Seperti jalan menuju sekolah, adab-adab di dalam rumah, juga membantu menerjemahkan kalimat Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Makassar, bahasa ibu dari dusun Bara. Hal ini penting sebagai jembatan komunikasi kami ke ibu-ibu dusun dan anak-anak sekolah yang kadang kala tak paham istilah lazim di Bahasa Indonesia.

Tiba waktunya kembali ke kota, kami kembali menerjang empat jam panjang sampai ke rumah Kak Jannah. Untungnya cuaca cerah, matahari bersinar terik, dan langit biru bersih dipenuhi awan-awan putih. Jalan pulang terasa lebih dekat ketimbang waktu keberangkatan kemarin.

Diiringi lambaian selamat tinggal dan salam sampai jumpa kembali, kami pulang membawa oleh-oleh cerita dari seorang pejuang pendidikan yang terhitung masih belia. Nyaris sekali sepantaran dengan kami semua. Sementara Nurjannah terus berjuang dan sekaligus berbahagia dengan pendidikan bagi untuk anak-anak di kampungnya. Diam-diam, saya merasa malu telah egois karena selalu berpikir hanya untuk kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan kondisi sekitar. Salam penuh takzim untuk semua Nurjannah-Nurjannah lain di pelosok sana.

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz