Pak Azis dan Kota Dunia Penulis: Tismi Dipalaya

Benarkah Makassar adalah smart city yang aman dan nyaman bagi warganya? Ternyata, tidak! Kepoin tulisan Tismi di bawah ini.

 

Beep. Beep.
Kita berangkat pukul 15.00.

 

Sebuah pesan muncul di layar ponsel yang tergeletak hanya beberapa sentimeter dari bantal yang saya gunakan. Alunan ayat-ayat Alquran terdengar begitu nyaring. Asrama tempat saya beristirahat memang berada tepat di samping masjid. Saya kemudian memicingkan mata mencoba membaca pesan singkat tadi dengan saksama. Suasana kamar yang gelap membuat saya kebingungan menebak waktu. Saya melirik jam di tangan kiri, jarumnya menunjukkan pukul 15.15. Beberapa kalimat saya ketikkan di layar ponsel untuk membalas pesan tadi.

***

Hujan sedang mengguyur Kota Makassar dengan lebatnya di Sabtu sore itu. Saya beserta dua orang teman menembus padatnya Jl. A.P. Pettarani di tengah terpaan hujan dan percikan genangan. Klakson kendaraan beradu tepat di area lampu merah fly over, warga kota tampak  sedang terburu-buru. Sebagian mungkin sedang marah dengan hujan yang datang mendadak di sore menuju malam minggu ini. Kami menyusuri jalan kecil di sebelah kanan Jalan Tol Reformasi menuju area Pampang, salah satu kelurahan yang sering disebut-sebut sebagai daerah “rawan” kriminalitas. Seorang teman bernama Fadli telah menunggu di ujung sebuah gang. Ia menuntun kami melewati gang-gang kecil.

Saya, Fadli, Ansyah, dan Apid akan mengunjungi sebuah keluarga yang menjadi target proyek berbagi bulan ini. Ansyah dan Apid memiliki sebuah usaha yang bergerak di bidang video dan fotografi. Mereka memiliki komitmen untuk rutin melakukan proyek sosial sebagai corporate social responsibility . Sebagai proyek pertama, mereka ingin membantu Pak Azis melalui video dokumenter untuk penggalangan donasi. Saya diajak bergabung untuk membantu membuat story board videonya. Kunjungan kali ini adalah riset awal kami sebelum membuat video tentang sosok Pak Azis.

Kami  tiba di sebuah rumah kost. Kami melangkahkan kaki masuk ke sebuah ruang berukuran 3 x 4 meter dengan dinding berwarna putih yang terlihat agak kusam. Tepat di samping pintu masuk terdapat tangga kayu. Di sebelahnya, terdapat meja kayu yang digunakan sebagai tempat menyimpan beberapa perabot makan dan sebuah kompor gas. Lantai ruang itu basah karena air hujan yang masuk dari pintu. Seorang lelaki berusia sekira 40 tahun duduk bersila di sudut ruang tersebut, Pak Azis namanya. Beliau tersenyum setelah menjawab salam kami. Di sebelahnya, ada Bu Muli, sang istri. Pak Azis dan Bu Muli adalah sepasang suami istri tunatera.

Mereka telah dikaruniai dua orang putra, Alwi dan Abil. Telah lama mereka berempat menelusuri jalan-jalan di Kota Makassar, berpindah dari satu tempat kost ke tempat kost lainnya. Keluarga kecil ini pindah ke tempat ini sejak Oktober 2015 lalu. “Beruntung karena pemilik kost yang sekarang lebih pengertian, dek. Kadang kami terlambat membayar sewa, tetapi beliau bisa memaklumi,” tutur Pak Azis diikuti sebuah senyum.

Pak Azis berasal dari Kota Palu dan Bu Muli dari Kabupaten  Bone. Mereka bertemu saat sama-sama mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Untuk kebutuhan sehari-hari, Pak Azis dan Bu Muli berjualan jagung dan keripik pisang. Pak Azis biasanya berjualan di sekitar Jl. Veteran, Jl. Latimojong, Pasar Sentral hingga ke dareah Mandai, Kabupaten Maros. Pak Azis memilih berjualan karena merasa tidak memiliki keterampilan. Semasa di bangku SLB dulu, beliau tidak dibekali keterampilan yang cukup untuk mereka gunakan bertahan hidup.

Pak Azis pun merasa tidak ada ruang lain yang bisa menerimanya sebagai seorang tunanetra. Padahal, beliau pernah beberapa kali mewakili Kota Makassar dalam ajang MTQ. Bahkan, pernah sekali memperoleh juara. Suara dan lantunan ayat suci Alquran dari Pak Azis pun berhasil membuat saya merinding saat kami meminta beliau memberikan contoh bagaimana ia mengajarkan tajwid.

“Kenapa nda jadi imam masjid ki, Pak? Muazin atau jadi guru mengaji?” Tanya saya kepada Pak Azis setelah mendengar lantunan ayat yang dibacakan

“Aih, biasa ji mau ki maju jadi imam tapi kadang orang-orang nda na percaya orang buta,” jawab Pak Azis.

Beliau bercerita bagaimana ia pernah suatu waktu melangkah masuk ke sebuah masjid dan seseorang dengan sebuah pertanyaan yang tidak mengenakkan datang menghampirinya.

“Mau ki apa di sini, Pak?” kenang Pak Azis mengulangi pertanyaan orang tersebut.

Pak Azis tertawa kecil, “Orang buta ke masjid saja dicurigai, bagaimana dengan tempat lain.”

Kami terdiam sementara Pak Azis kembali tersenyum.

Alwi duduk di pangkuanku. Sejak awal kedatangan kami, bocah berusia enam tahun ini tersenyum-senyum kegirangan. Ia begitu aktif berlarian di sekeliling ruang tersebut. Saya menanyainya banyak hal dan ia pun menjawab tanpa ragu dan malu, seolah kami telah lama akrab. Ia terlihat sangat riang dan percaya diri. Ia tak henti-hentinya tersenyum. Namun, pandangannya terlihat agak aneh.

Kadang, ia bercerita dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan pandangan ke arah lain. Rupanya, penglihatan Alwi pun mengalami gangguan. Ia mengidap katarak di mata kirinya sejak berusia empat tahun. Setahun belakangan ini mata kanannya pun mulai tidak dapat berfungsi dengan baik. Katarak kini terdapat di kedua bola matanya.

Tahun depan Alwi sudah saatnya masuk ke sekolah dasar. Bu Muli berharap agar mata Alwi dapat dioperasi tahun ini agar anak sulungnya itu dapat bersekolah di sekolah umum bukan SLB. Namun, keadaan ekonomi keluarga Pak Azis tidak memungkinkan untuk segera melakukan operasi untuk Alwi. Hasil berjualan jagung dan keripik hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya sewa kost. Bahkan, Pak Azis sekeluarga terpaksa mengonsumsi mi instan jika sedang sepi pembeli.

Pengalaman pahit tak lepas dirasakan oleh Pak Azis. Pak Azis kerap ditipu oleh pembelinya karena tidak dapat mengenali uang. Beliau hanya mengandalkan kejujuran pembelinya. Pernah di suatu siang, seseorang membeli keripik pisang seharga Rp5.000,00 kemudian menyerahkan selembar uang kertas Rp2.000,00. Namun, diakui sebagai uang Rp50.000,00. Bisa dibayangkan kerugian Pak Azis. Benarlah, seorang tunanetra yang memutuskan untuk berjualan akan sangat besar potensinya untuk tertipu karena tidak mampu mengenali nominal uang.

Akan tetapi, Pak Azis tidak pernah patah semangat untuk memasrahkan hidupnya pada belas kasih orang-orang dengan meminta-minta. Bagi beliau, meminta-minta adalah tindakan putus asa. Ia optimis bahwa berjualan akan tetap bisa menghidupi keluarganya. Mungkin hari itu ia tertipu tapi ia percaya di luar sana masih banyak orang yang jujur.

Kehidupan di jalanan kota telah dirasakan Pak Azis selama kurang lebih dua puluh tahun. Jalan kota, misalnya Makassar bagi seorang tunanetra seperti Pak Azis tak pernah ramah. Berjalan kaki menggunakan trotoar yang ramah tunanetra pun masih jauh dari harapan. Sebagian besar ruas jalan belum tersedia trotoar untuk pejalan kaki. Kalaupun ada hanya pada ruas jalan poros seperti Jl. A.P. Pettarani, Jl. Urip Sumiharjo, dan Jl. Perintis Kemerdekaan. Trotoar itu pun belum ramah tunanetra. Bahkan, seringkali menjadi tempat para pedagang kaki lima bertengger. Di jalan-jalan yang merupakan titik padat kendaraan seperti terminal, kampus, sekolah, dan pasar masih kurang ruang untuk pejalan kaki. Orang normal saja harus beradu dengan berbagai kendaraan bermotor apalagi bagi seorang tunanetra atau penyandang disabilitas lainnya.

Persoalan lain yang sering dialami oleh Pak Azis adalah menyeberang jalan. Pak Azis mengaku sangat kesulitan untuk menyeberang jalan. Ia mengaku kebingungan jika hendak menyeberang di perempatan jalan. Beliau hanya bisa mengandalkan indera pendengarannya untuk mengetahui pergantian lampu lalu lintas dari merah ke hijau atau sebaliknya.

Makassar dengan ambisinya sebagai kota dunia pada kenyataannya masih memiliki pekerjaan rumah yang banyak. Predikat kota dunia tidak hanya tentang bangunan fisik atau penggunaan teknologi yang canggih, tetapi juga tentang kondisi sosial masyarakat sebagai warga kota dunia. Terlebih dengan diluncurkannya Makassar Smart City, sudah seharusnya pemerintah tidak hanya berkutat membentuk hutan beton di mana-mana, tetapi juga berupaya membuat warga kota menjadi “smart” yang memiliki kualitas hidup tinggi.

Fenomena Smart City tentunya sejalan dengan yang diungkapkan Caraglin et al (2009) “ we believe a city to be smart when investments in human and social capital, and transport and ICT communications infrastructure fuel sustainable economic growth and a high quality of life, with a wise management of natural resources, through participatory governance.” Sebuah kota dapat dikatakan Smart City ketika investasi difokuskan pada manusia dan modal sosial, energi, infrastruktur, transportasi, ICT komunikasi, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta kualitas hidup yang tinggi dengan manajemen sumber daya alam yang bijaksana melalui tata pemerintahan yang partisipatif. Pemerintah sudah seharusnya terlibat dalam segala bentuk pembangunan fisik dan nonfisik.

Jika jalanan kota bagi orang normal saja tidaklah ramah, bagaimana dengan Pak Azis dan para tunanetra lainnya?

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz