Ramadan, Bukan Soal Belanja Apa Penulis: Alya

Bagi sebagian orang, Ramadan adalah bulan di mana pengeluaran semakin besar. Tapi bagi Alya, Ramadan bukan soal belanja, tapi soal yang lainnya. Apa itu? Kepoin yuk!

Ada satu pemandangan yang sangat umum di bulan Ramadan selain pemandangan penuhnya masjid di waktu sholat. Pemandangan yang saya maksud adalah ramainya pasar di sore hari selepas jam kantor, atau penuhnya jalanan dengan beragam pedagang menu buka puasa.

Pasar akan sangat ramai dikunjungi pembeli yang mampir dari perjalanan kantor ke rumah. Tujuannya tentu saja membeli beragam bahan makanan, entah buat berbuka puasa, makan malam atau buat sahur. Sementara pedagang menu buka puasa itu adalah mereka yang mencari rejeki dari orang-orang yang tak sempat menyiapkan sendiri makanan berbukanya.

Sebuah istilah ekonomi yang disebut inflasi konon kerap terjadi di Bulan Ramadan. Beberapa orang, termasuk saya, mungkin masih asing dengan kosa kata ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inflasi merupakan kemerosotan nilai mata uang karena banyaknya dan cepatnya uang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang.

Jika kita pernah mengalami kenaikan harga beberapa barang yang terjadi secara umum di berbagai tempat maka kita sudah merasakan terjadinya inflasi. Kenaikan harga ini diakibatkan peredaran uang yang terus meningkat. Jika jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan jumlah barang maka nilai uang akan merosot dan mengakibatkan kenaikan harga. Menurut Keynes, inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuannya secara ekonomis. Permintaan yang meningkat untuk memenuhi keinginan tersebut menyebabkan harga barang menjadi naik dan terjadi inflasi.

Ramadan selalu diasosiasikan sebagai saat meningkatnya kebutuhan. Dari kebutuhan makan sehari-hari sampai kebutuhan sandang menjelang Idul Fitri. Bahkan beberapa orang merasa butuh kendaraan baru yang bisa digunakan di hari lebaran. Permintaan meningkat sementara produksi tetap. Akhirnya terjadilah inflasi.

Seperti itulah keriuhan Ramadan berlangsung.

*****

Tapi tidak bagi Ibuku, saat Ramadan segera tiba Ibu mengeluarkan mukenah dan sajadah di lemarinya untuk dicuci. Bukan mukenah dan Sajadah baru, hanya buah tangan dari kerabat beberapa tahun lalu usai menunaikan Ibadah Haji. Mukenah dan sajadah yang disimpan baik-baik untuk dikenakan hanya saat Ramadan dan Lebaran. Kata Ibu supaya ada motivasi agar lebih semangat beribadah.

Mengenai makanan berbuka puasa, di antara waktu duhur dan azar Ibu akan sibuk di dapur. Mengolah bahan makanan untuk berbuka. Menu berbuka kami sederhana saja. Air putih dan beberapa potong kue, kadang juga es kelapa muda atau es cendol. Di rumah kami tidak berbuka dengan langsung makan nasi

“Nanti kalau kekenyangan tidak bisa rukuk pas Sholat Magrib.” Kata Ayah.

Jika di waktu salat lain kami melakukannya sendiri-sendiri, khusus untuk salat magrib kami melakukannya berjamaah. Karena waktu magrib singkat dan setelahnya kita akan makan bersama, maka akan solat berjaah tentu lebih efisien. Selain tentu saja amalnya lebih besar.

Menu makan kami pun tak mewah. Hanya nasi, sayur, dan ikan kadang ditambah tahu, tempe atau telur. Sama dengan lauk di hari-hari biasa. Begitupun ketika sahur, biasanya sisa makanan saat buka akan dipanaskan dan ditambah dengan olahan bahan yang sengaja disisakan Ibu saat siang hari untuk diolah ketika sahur. Hanya yang berbeda adalah ritual makan bersama itu. Kalau di hari lain kami seperti makan sendiri-sendiri, tapi saat puasa kami seperti sudah dikoordinir sebelumnya untuk harus makan bersama.

Jamaah melintas selepas sholat Idul Fitri (foto: Daeng Ipul)

Lalu mengenai baju baru untuk lebaran. Ibu bukan tak sepakat dengan baju baru, ia tahu bahwa setelah melawati satu bulan yang berat memang tak berlebihan jika merayakannya dengan sesuatu yang indah dan kami sukai. Baju baru misalnya. Tapi bukan baju yang dijual di toko dengan berbagai model yang selalu berubah setiap tahunnya. Mengenai pakaian ini, Ibu memilih menjahitnya sendiri. Kami bertiga (Ibu, saya dan adik. Kecuali Ayah sebab ia memilih ikut saja dengan pilihan kami) akan pergi membeli kain bersama. Memilih motif yang disepakati bersama. Sejumlah kain yang cukup untuk membuat baju bagi kami berempat. Setelah tiba di rumah, satu persatu kami dipanggil. Sebuah meteran dilingkarkan di badan kami, mulai dari leher, perut dan pinggang. Lalu tangan dan kaki. Setelah itu, beberapa hari ke depan kami pun membayang-bayangkan seperti apa kiranya model pakaian itu jika sudah selesai Ibu jahit.

“Jadi mi bajunya?” begitu biasanya saya dan adik akan bergantian bertanya.

“Nanti kalau sudah jadi, saya panggil ji itu,” dan selalu seperti itu jawaban dari Ibu.

Tiba hari saat kain yang Ibu beli telah berubah menjadi baju. Meski baju Ayah selalu lebih dulu dibuat karena lebih mudah menjahitnya, Ibu baru akan memanggil kami untuk mencobanya kalau semua baju sudah jadi. “Bagus kalau kita langsung pakai sama-sama” kata Ibu. Rasa penasaran pun terobati, kami sibuk membolak-balik badan di depan cermin untuk memastikan tak ada bagian yang perlu dijahit ulang.

*****

Saat lebaran kita juga sering melihat kue-kue dalam toples yang dihidangkan untuk para tamu. Di rumah juga begitu.

“Tidak enak kalau ada tamu terus tidak ada kue dikasihkan.” begitu kata ibu.

Kue di rumah kami dibuat sendiri oleh Ibu, dibantu oleh kami bertiga (jika itu bisa disebut membantu). Belanja terigu, mentega, gula, telur dan pernak-pernik kue bersama Ibu. Lalu membuat kuepun menjadi aktivitas yang menyenangkan, kami ikut menghiasi kue dengan model yang kami inginkan, bermain tepung hingga Ibu kadang memarahi kami karena membuatnya harus membeli tambahan tepung lagi.

Tiba waktu berbuka, kue yang kami buat dicicipi satu persatu. Berbagai komentar dilontarkan dan dipilihlah beberapa kue terbaik untuk diletakkan di meja ruang tamu. Kue Putri Salju dan Nastar dengan taburan gula halus di atasnya, menjadi kue yang tak pernah absen setiap lebaran.

Di malam lebaran, saya dan adik menjadi dua orang yang selalu siaga menerima perintah. Mulai dari perintah membantu Ayah membersihkan rumah maupun perintah dari Ibu untuk membantunya yang kerepotan di dapur. Ketupat dan ayam yang Ibu beli selalu dicukupkan untuk satu hari saja. Tak lebih. Kata Ibu, “Makanan ini untuk disantap saat lebaran saja, jadi tidak perlu terlalu banyak.”

Keesokan harinya, baju yang Ibu jahit kami kenakan menuju lapangan yang menjadi tempat dilangsungkannya Sholat Id berjamaah di kampung saya. Berjalan beriringan dengan baju seragam membuat kami jadi berbeda dari yang lain. Menunjukkan bahwa kami adalah satu keluarga. Sepulang Sholat Id, kami berkumpul di ruang tengah. Melingkar di depan tiga buah nampan berisi makanan. Masing-masing berisi sepiring ketupat, sepiring ayam goreng, semangkuk sop dan segelas air. Kami duduk dengan tenang menunggui Ayah merapal sejumlah doa lalu mengucap “Al Fatihah” dengan lantang. Pertanda bahwa kami diminta untuk membacakan Surah Al Fatihah bersama. Setelah itu Ibu akan mempersilakan kami menyantap hidangan yang sejak semalam tak boleh disentuh jika belum melewati ritual ini.

Dua orang jamaah mengaji selepas sholat duhur di sebuah masjid
(foto: Daeng Ipul)

Ramadan kali ini, saya rasa tak akan banyak berbeda seperti sebelumnya. Hanya intensitas berkumpul kami yang sedikit berkurang sejak saya dan adik meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu. Juga baju jahitan Ibu yang mungkin tidak bisa kami kenakan lagi karena mata Ibu yang sudah sulit melakukan aktivitas seperti memasukkan benang ke dalam jarum dan mencermati laju jarum yang menyatukan kain. Mungkin kami akan mengenakan pakaian lama saja jika cukup kuat menahan godaan. Atau akan membeli baju dengan harga yang pas dengan tanpa menggoyahkan kondisi keuangan keluarga jika godaan membeli baju baru itu sulit kami hindari.

Tentang Ramadan, bagi saya dan keluarga bukanlah makanan atau pakaiannya. Bukan pula soal jor-joran belanja makanan, pakaian atau barang-barang baru. Ramadan bagi saya adalah menikmati  suasana yang berbeda. Sebuah jeda yang mengajak saya, beserta segenap manusia untuk bersiap memulai lagi pertarungan dengan diri sendiri.

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz