Ramadan di Kampung Inggris Pare Penulis: Anna Asriani

Bagaimana rasanya berpuasa jauh dari keluarga? Kangen? Sedih? Atau malah biasa saja. Kepoin yuk cerita melewati Ramadan di Kampung Inggris Pare.

Bulan Ramadan biasanya menjadi momentum bagi orang-orang berkumpul bersama sanak keluarga, tapi tidak kali itu dengan saya. Waktu itu bersama delapan orang teman kuliah, saya nekat menjemput Ramadan 2013 di perantauan. Tepatnya, Di Kampung Inggris Pare. Bukan lagi sekadar lintas kabupaten, melainkan melintasi provinsi. Sebuah tempat yang bagi kami semua kala itu adalah hal yang masih amat baru.

Demi mengisi ruang ilmu dan waktu libur kuliah, kami memutuskan mengikuti kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare. Sebuah kampung yang terletak di kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di kampung tersebut terdapat banyak tempat kursus Bahasa Inggris dengan biaya yang sangat murah. Di Pare, sebutan untuk kampung tersebut, juga menyediakan tempat kos bagi pendatang dari luar daerah. Karena itu, Kampung Inggris pun menjadi tujuan bagi banyak orang dari berbagai daerah untuk belajar Bahasa Inggris dengan lebih efektif dan cepat. Termasuk saya dan teman-teman.

Di Pare, di luar rencana rupanya kami tinggal terpisah. Saya dan dua orang teman tinggal sekamar di sebuah kos, sedang tiga lainnya di sebuah camp. Sisanya tinggal sendiri-sendiri di kamar kos lain yang masing-masing jaraknya hampir dua kilometer lebih dari lokasi saya. Sebenarnya saya sedikit beruntung dibandingkan teman-teman lainnya  karena masih sempat merasakan sahur bersama keluarga. Teman-teman saya tersebut memulai Ramadan lebih dahulu mengikuti keputusan ormas Muhammadiyah yang berdasarkan hisab pada waktu itu.

Menjalani Ramadan di kampung Inggris Pare membuat saya merasakan shock-culture (padahal masih di Indonesia).Tersebab saya harus menjalani puasa Ramadan di tempat asing sembari harus mematuhi jam belajar di dua lembaga kursus yang menyita waktu sehari penuh. Perbedaan zona waktu yang lebih lambat satu jam dengan kampung halaman pun memaksa saya menyesuaikan diri khususnya untuk jam makan. Misalnya saja waktu imsak yang jatuh pada jam empat tepat lalu satu setengah jam kemudian kelas saya sudah dimulai. Jadinya setelah sahur tidak ada lagi waktu untuk bersantai atau sekadar merebahkan diri.

Bagaimana rasanya puasa selama 20 Jam? Baca kisahnya di sini

Keadaan ini juga memaksa saya harus bangun lebih cepat dari kebiasaan bangun sahur di Makassar. Sering kali saya terserang homesick saat sahur karena merindukan masakan rumah yang disantap bersama keluarga. Di Pare, saya harus membeli makanan di warung terdekat saat terbangun di sepertiga malam. Itu pun kami harus bergantian keluar untuk berjaga-jaga agar tidak ada maling yang menyelinap masuk. Untung saja tempat kos saya berada tepat di tengah kampung Inggris Pare yang di depannya warung-warung makan berjejeran.

Pernah pula kami bangun kesiangan, terpaksa sahur kami hanya berupa minum air segelas. Oleh karena itu, belajar dari pengalaman itu, beberapa kali kami membeli makanan sejak malam hari untuk dimakan saat sahur. Kami menyiasatinya dengan memilih lauk yang bisa bertahan tidak basi hingga subuh.

 

Nasi ketan a la Kampung Inggris Pare
Nasi ketan a la Kampung Inggris Pare

Asiknya, perbedaan zona waktu menjadikan saat berbuka jadi lebih cepat yaitu sekitar jam 5.30 WIB. Jadi tepat saat kelas bubar, azan Magrib sudah berkumandang. Seketika itu berhamburanlah para pencari ilmu memadati warung-warung makanan. Sebalnya, kami sering telat berbuka karena warung incaran sudah dipenuhi orang. Padahal memilih warung makan saja sudah terbilang hal yang sulit sebab lidah kami sulit berkompromi dengan masakan Jawa. Maklum, kami orang Makassar terbiasa dengan makanan yang asin sementara orang Jawa lebih sering menghidangkan makanan yang manis.

Mentok, menu buka puasa andalan saya adalah es buah, es kelapa, soto ayam, ayam penyet, dan nasi tempe yang diselang-seling tiap hari agar tidak bosan. Suatu waktu, saya rindu sekali ingin menyantap menu buka puasa khas Sulawesi. Demi memuaskan keinginan itu, saya dan teman sekosan bolos kelas untuk mencari penjual pisang ijo sampai ke jalan raya yang kira-kira jaraknya empat kilometer dari tempat saya. Puas saya membawa bergelas-gelas es pisang ijo, sayangnya rasa rindu saya belum tuntas sepenuhnya sebab sirup yang digunakan bukan sirup DHT (sirup khas Sulawesi) yang membuat perbedaan rasa begitu mencolok.

Perihal ibadah, saya ingat tarawih pertama harus berjalan hampir dua kilometer melewati masjid-masjid yang sudah penuh jamaah. Dengan napas tersengal saya melewati jamaah perempuan yang duduk berhaf-shaf di pekarangan masjid yang sederhana itu sambil berkata tabe’. Langkah saya itu kemudian diikuti pandangan heran oleh mereka. Saya lupa kalau sedang tidak di kampung halaman. Ha-ha…

Pada saat itu, terdengar suara dari dalam masjid dalam bahasa Jawa yang tidak saya mengerti. Teman saya yang keturunan jawa pun ternyata tidak dapat saya andalkan. Kami menebak kalau itu adalah penceramah yang menyampaikan pesan penutup. Padahal belum cukup lima menit kami merapatkan diri dengan jamaah. Terlambat! Ya, tapi itu bukan masalah besar, mengingat isi ceramah yang toh juga tidak saya mengerti maksudnya.

Setelah melangkah pulang saya dibuat bingung karena rupanya sholat tarawihnya hanya empat rakaat. Apa saya ketinggalan beberapa rakaat sebelumnya? Selama di Pare, bisa dikatakan saya menunaikan tarawih di masjid berbeda tiap hari untuk mencari kebiasaan bertarawih yang mirip dengan di Makassar. Rupanya tidak ada yang sama, bahkan setiap masjid memiliki kebiasaan tarawih yang berbeda—tidak melanggar rukun tarawih kok. Ada yang jumlah rakaat sholatnya 20 tapi tidak diisi ceramah dan kurang dari 30 menit semua jamaah sudah bisa kembali ke rumah. Pegal!

“Hampirmi lebaran, pesan ma ki’ tiket pulang deh!” ajak teman sekamar saya.

Hampir sebulan kami menghabiskan Ramadan di Pare sebelum memutuskan untuk tidak lebaran di sana setelah mendengar kebiasaan berlebaran penduduknya.  Seorang teman yang pernah berlebaran di Kampung Inggris Pare menyampaikan kalau lebaran di sana tak ada ketupat dan opor ayam. Saya tidak ingin membayangkan hari lebaran tanpa ketupat dan opor ayam karena harus menunggu lebaran ketupat, kemudian melalui tujuh hari dengan bosan tanpa silaturahmi.

Lagipula, bagaimanapun lebaran bersama keluarga tentu adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Cukup rasanya melewati Ramadan di Kampung Inggris Pare. Setidaknya saya bisa merasakan suasana yang berbeda dengan suasana yang biasa saya jalani di kampung halaman. Sebuah pengalaman yang sangat berharga.

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
trackback

[…] memasuki tahun kedelapan saya mengawali bulan Ramadan di kampung orang. Jika setahun sebelumnya saya berpuasa di kabupaten Barru tempat saya magang dan tahun-tahun […]

wpDiscuz