Yang Hidup dan Mati Menjelang Idul Fitri Daeng Ipul

Dua puluah tahun lalu, banyak toko dan bioskop yang tiba-tiba menggeliat hidup menjelang Idul Fitri di Makassar. Namun, di mana mereka sekarang? Kepoin yuk!

Lebaran. Kata ini jadi kata yang ditunggu sebagian besar umat Islam Indonesia setelah berpuasa sebulan penuh. Hanya umat Islam Indonesia? Ya iyyalah, soalnya hanya umat Islam Indonesia yang mengenal kata lebaran. Umat Islam di negara lain tidak, tentu karena mereka punya istilahnya sendiri-sendiri. Seperti orang Malaysia misalnya, mereka menyebut Idul Fitri dengan “Hari Raya” saja.

Iseng saya mencari asal-usul kata lebaran ini. Dari beberapa sumber di internet, sepertinya ceritanya sama. Konon, kata lebaran itu diadopsi dari tradisi Hindu yang artinya “bubar, selesai, tamat”. Tentu ini untuk menandai selesainya bulan suci Ramadan yang diakhiri dengan Idul Fitri.

Menurut beragam sumber itu, mungkin saja istilah ini digunakan para wali jaman dahulu agar penganut Hindu yang memeluk agama Islam tidak asing dengan agama barunya. Cerita lain menyebutkan kalau kemungkinan kata lebaran diadopsi dari bahasa Jawa “wis bar” atau sudah selesai.

Entah mana yang benar, yang jelas kata lebaran sudah kadung populer di Indonesia dan dipakai untuk mengistilahkan Idul Fitri, penanda datangnya bulan Syawal.

Orang Makassar sendiri menamai Idul Fitri dengan nama “a’lappasa” (berlebaran) atau “allo pallappassang” yang secara harfiah berarti “hari lebaran/Idul Fitri”. Asal katanya “lappasa” atau lepas. Mungkin menandai lepasnya bulan suci Ramadan, atau lepasnya dosa antar manusia yang ditandai dengan saling bermaaf-maafan.

Dalam bahasa Bugis berlebaran disebut dengan “malleppe”, ada juga Bugis yang menggunakan kata “mallappa”. Orang Palopo yang mendiami bagian utara Sulawesi Selatan juga menggunakan kata “mallappa”. Dua-duanya punya makna yang sama dengan berlebaran dalam bahasa Makassar.

*****

Nah kalau mengaitkan Makassar dan lebaran maka ingatan saya tiba-tiba melayang ke masa dua puluhan tahun silam ketika Makassar masih unyu-unyu dan belum punya mall. Begini, lebaran selalu diidentikkan dengan pakaian baru yang tentu saja dibeli dari pusat-pusat perbelanjaan. Di masa sekarang ada banyak mall, tempat-tempat yang jadi pusat keramaian sepekan sebelum lebaran tiba. Alternatif lainnya ya distro-distro atau sekarang banyak pedagang kagetan di tepi jalan di kota Makassar.

Lalu bagaimana dulu kami menutupi kebutuhan baju baru menjelang lebaran ketika mall belum hadir di kota ini?

Jawabannya adalah beberapa toko pakaian yang tersebar di beberapa titik di kota Makassar. Pusatnya tentu saja di sekitaran Lapangan Karebosi yang jadi pusat kota Makassar dan tak jauh dari Pantai Losari. Ah hampir lupa, kala itu namanya masih Ujung Pandang. Masih Kotamadya, pula.

Nama-nama yang terkenal waktu itu di antaranya adalah; Sejahtera 01, Harapan Baru, Akai, Bharata dan Daimaru. Di hari-hari menjelang lebaran, pusat-pusat perbelanjaan itu pastilah penuh sesak oleh manusia yang ingin berbelanja. Bukan hanya orang dari penjuru kota Makassar, tapi juga dari beragam daerah lain di sekitar Makassar.

Saya ingat, di suatu waktu daerah Jalan Jenderal A. Yani tempat sebagian besar toko-toko itu berada bahkan sempat ditutup di malam hari. Alasannya karena pengunjung begitu membludak dan membuat jalanan tak bisa dilewati kendaraan.

Selain toko-toko itu banyak juga orang-orang yang menyemut di Pasar Sentral, pasar terbesar kota Makassar waktu itu. Pengunjung Pasar Sentral adalah orang-orang yang ingin mendapatkan baju baru dengan harga lebih murah, plus ibu-ibu yang membeli bahan kue dan masakan lain di hari raya, atau ibu-ibu yang memborong kain untuk dijahit jadi pakaian, atau kain untuk dijahit menjadi gorden. Lebaran kan biasanya identik juga dengan gorden baru, bukan? Eh jangan lupa juga ibu-ibu yang memborong toples-toples cantik yang siap menampung beragam kue kering untuk tamu-tamu yang berlebaran.

Toko-toko itu menjadi raja di Makassar hingga akhirnya eksistensi mereka mulai terganggu ketika (kalau tak salah ingat) medio 1994 Matahari mulai membuka cabang di Makassar. Mengambil satu lantai di Pasar Sentral, Matahari dengan nama yang sudah terkenal itu menyedot perhatian banyak orang Makassar dan sekitarnya.

Eksistensi toko-toko legendaris itu makin terganggu ketika di dasawarsa 90an mall pertama hadir di kota Makassar. Mall Ratu Indah namanya, dibangun di bilangan Jln. DR. Sam Ratulangi atas biaya dari Hadji Kalla Group. Penduduk kota yang kala itu sudah berubah nama menjadi Makassar tentu saja mulai memadati mall yang jadi ikon kemajuan kota itu. Sayang saya tidak tahu bagaimana ramainya mall itu menjelang lebaran di tahun pertamanya melayani warga kota Makassar, tahun itu saya malah tinggal di ibu kota.

Masuk ke milenium baru, kota Makassar makin marak dengan beragam mall-mall baru. Berturut-turut hadir Mall Panakkukang, Panakkukang Square, GTC, Makassar Trade Center, Makassar Town Square, Karebosi Link dan paling bungsu (saat ini) Trans Mall.

Iklan pembangunan Karebosi Link medio 2008

Mall-mall itulah yang kemudian mengambil alih peran sebagai pusat keramaian belanja menjelang berakhirnya Ramadan. Satu per satu toko-toko lama nan legendaris itu kesepian, tak lagi menjadi pusat perhatian seperti dulu. Beberapa di antaranya bahkan sudah tutup. Daimaru menjadi pusat penjualan pakaian bekas dan barang-barang black market, Sejahtera 01 berubah fungsi, dan toko-toko lainnya masih tetap berdiri tapi tentu saja tak seramai dulu lagi.

*****

Suasana lebaran di tahun 90an lainnya yang juga selalu terngiang di kepala saya adalah kebiasaan menyambangi bioskop sehari setelah sholat Idul Fitri. Masa itu adalah masa ketika kami anak-anak kecil ini memenuhi kantong dengan uang-uang pemberian om, tante atau keluarga lainnya yang lebih tua.

Uang-uang itulah yang kami gunakan untuk berkendara jauh dari rumah, menuju bioskop-bioskop yang ada di pusat kota Makassar (atau Ujung Pandang waktu itu).

Dono, Kasino dan Indro selalu hadir di hari lebaran dengan film-film terbaru mereka, dan itulah tujuan utama kami. Bersama satu-dua teman yang lebih dewasa kami menuju ke bioskop-bioskop yang memutar film-film baru trio Warkop DKI itu. Ada dua bioskop yang jadi langganan pemutar film-film Warkop DKI: Bioskop Dewi dan Bioskop Paramount.

Keduanya berada dalam manajemen yang sama, dikelola oleh seorang pengusaha berdarah India. Keduanya punya karakter yang berbeda sebenarnya. Bioskop Dewi mengkhususkan diri untuk memutar film-film Bollywood sementara bioskop Paramount mengkhususkan diri memutar film Indonesia atau film-film Hollywood rate B atau bukan yang box office. Namun, di hari lebaran keduanya kompak memutar film-film Indonesia dengan film Warkop DKI sebagai pusatnya.

Film Warkop DKI diputar hampir setiap habis lebaran, sesekali diselingi film-film Indonesia lainnya seperti; Nada dan Dakwah (dibintangi Alm. Kyai Zainuddin MZ dan Rhoma Irama) serta film-film kolosal seperti Satria Madangkara dan Tutur Tinular.

Saya masih ingat betul bagaimana senangnya kami anak-anak pinggiran kota ini melihat keramaian kota Makassar dalam suasana Idul Fitri. Kami bebas berbaur dengan ratusan orang lainnya yang mengantri tiket, berdesakan masuk ke gedung bioskop dan tertawa riuh ketika ada adegan lucu dari film Warkop DKI.

Salah satu sisa bioskop tua di Makassar

Kebiasaan menyambangi bioskop selepas Idul Fitri masih terus saya lakukan sampai masa ABG dan mulai berhenti menjelang akhir 1990an. Tren mulai berubah, Warkop DKI tak lagi berkarya seperti dulu, popularitas mereka pun tak lagi seterang dulu. Pun, bioskop-bioskop tua yang banyak macamnya itu satu per satu mulai tutup, digantikan jaringan 21 Cineplex. Nampaknya tak ada lagi tradisi menonton bioskop selepas Idul Fitri.

*****

Kalau saya renungkan, ternyata hari-hari menjelang Idul Fitri dan hari-hari setelahnya menyimpan banyak kenangan dinamika perubahan kota ini. Dari matinya toko-toko pakaian punya pengusaha lokal sampai matinya bioskop-bioskop lokal yang tak bisa bersaing dengan jejaring pengusaha besar dari ibu kota.

Ternyata dengan mengingat suasana Idul Fitri di kota ini saya makin sadar kalau kota ini memang menggelinding begitu cepat. Awalnya perlahan, sebelum menjadi begitu cepat selepas milenum kedua. Satu per satu yang tak bisa bersaing akhirnya lesu dan bahkan ada yang mati. Sisanya, tetap bertahan meski tak lagi sekokoh dulu.

Idul Fitri menyimpan begitu banyak cerita tentang perubahan wajah kota Makassar. Belasan tahun dari sekarang, entah akan seperti apa wajah kota ini menjelang Idul Fitri. Entah siapa lagi yang akan mati, siapa yang akan lesu dan siapa yang akan bertahan.

Selamat berlebaran kawan-kawan! Mohon maaf untuk semua salah dan dosa yang pernah saya perbuat. Mudah-mudahan kita masih akan bertemu dengan Ramadan dan Idul Fitri di tahun depan.

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz