Apa Itu Persekusi? Penulis: Daeng Ipul

Ada satu kata yang akhir-akhir ini jadi cukup akrab buat saya. Sering wara-wiri di media sosial dan di grup-grup percakapan. Kalian juga mungkin melihatnya. Kata itu adalah “PERSEKUSI”. Apa sebenarnya persekusi itu? Kepoin yuk!

Akhir-akhir ini berita di Indonesia memang sedang ramai dengan kasus-kasus intimidasi oleh beberapa berkelompok terhadap orang lain. Alasannya macam-macam, tapi biasanya tidak jauh dari tuduhan melakukan penghinaan terhadap agama (dalam hal ini Islam) dan ulama. Intimidasi itulah yang kemudian disebut sebagai PERSEKUSI.

Nah karena penasaran saya coba untuk mencari tahu dari berbagai sumber tentang apa itu persekusi dan hal-hal lain tentangnya. Di tulisan ini saya coba untuk mengumpulkan data dan apa yang saya ketahui tentang persekusi. Saya rangkum dalam model 5W1H.

[WHAT] Apa Itu Persekusi?

Saya coba menggunakan penjelasan dari Ivan Lanin ya. Beliau ini dikenal sebagai praktisi bahasa Indonesia dan termasuk dalam tim yang menyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia V. Berikut penjelasannya:

Persekusi adalah perlakuan buruk atau penganiayaan secara sistimatis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain khususnya karena suku, agama atau politik. [1] Kata ini diserap dari bahasa Inggris “persecution“, dari bahasa Latin “persecutio (memburu)”. [2] KBBI mendefinisikan kata ini sebagai “pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. [3]

Istilah persekusi ini sendiri ternyata masih menjadi perdebatan di beberapa kalangan. Ada yang menganggap istilah ini tidak tepat untuk menggambarkan fenomena yang dimaksud. Alasannya kata persekusi terlalu berat dan hampir setara dengan pemusnahan massal.

Beberapa pihak juga menyamakan tindakan main hakim sendiri sebagai tindakan persekusi. Padahal menurut saya tindakan main hakim sendiri hanya satu bagian dari keseluruhan persekusi. Karena selain main hakim sendiri juga ada tindakan sistimatis, tindakan menyusahkan target dan tentu saja hubungan dengan politis, suku atau agama.

Mungkin karena istilah ini baru ramai –walaupun kejadiannya tentu saja sudah ada sejak berabad-abad lalu- maka penerjemahan dari para ahli juga masih belum kompak dan satu suara.

 

[WHY] Kenapa Tindakan Persekusi Bisa Muncul?

Menurut Damar Djunianto, koordinator relawan SAFENet, meningkatnya tindakan persekusi ini sedikit banyaknya adalah pengaruh dari kasus Ahok atau disebutnya sebagai The Ahok Effect.

Sejak Ahok resmi dinyatakan bersalah untuk kasus penistaaan agama dan harus mendekam selama dua tahun di penjara, tingkat sentimen atau kritikan untuk sebuah ormas yang menjadi salah satu tulang punggung melawan Ahok jadi meningkat. Banyak orang yang secara terang-terangan menunjukkan ketidaksenangannya pada ormas tersebut, apalagi karena imam besar ormas tersebut tersangkut masalah hukum dan belum memenuhi panggilan polisi.

Kecaman terhadap ormas tersebut mulai ramai di media sosial. Sebagian berbentuk kritikan, sebagiannya lagi memang berbentuk ujaran kebencian (hate speech).  Di sisi lain keputusan hakim memenjarakan Ahok juga dianggap membuat beberapa pihak menjadi lebih percaya diri untuk bertindak atas nama agama, tidak lagi sekadar memaki di media sosial tapi sekaligus bergerak di dunia nyata.

Hal-hal inilah yang menjadi pemicu maraknya tindakan persekusi di Indonesia. Sayangnya akar masalah maraknya persekusi ini menurut saya malah kurang digali, sebagian orang kemudian malah sibuk mencap tindakan anti persekusi sebagai perlawanan terhadap tindakan membela Islam dan ulama. Padahal saya yakin tidak seperti itu.

sumber: BERITAGAR

[WHEN] Kapan Persekusi Mulai Marak?

Seperti yang saya bilang di atas, tindakan persekusi sudah ada sejak berabad-abad lamanya, namun di Indonesia baru marak dibahas beberapa pekan belakangan ini.

 

 [WHO] Siapa Saja Pelaku dan Korban Persekusi?

Sampai 16 Mei 2017, SAFENet mengumpulkan data ada 52 kasus persekusi berbasis agama yang terjadi di Indonesia. Data ini mungkin saja jauh lebih kecil dari yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Para pelaku beragam, dari yang mengaku mewakili ormas tertentu maupun kelompok atau aliansi yang baru terbentuk. Bahkan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia juga pernah melakukan aksi persekusi meski terkesan lebih lembut karena tidak disertai ancaman pembunuhan. Korban didatangi beramai-ramai untuk diminta klarifikasi dan kemudian berakhir dengan damai.

Para korban persekusi ini juga beragam latar belakangnya. Dari pengangguran, satpam, karyawan, hingga profesional seperti dokter. Pria dan wanita dua-duanya menjadi korban persekusi. Sebagian besar menggunakan Facebook sebagai wadahnya, sisanya adalah Twitter dan Instagram.

Beberapa postingan korban persekusi ini sebenarnya (menurut saya) masih dalam tahap kritikan atau mempertanyakan sebuah tindakan. Namun, kritikan itu ternyata tidak diterima dengan baik dan malah berakhir dengan tindakan persekusi. Beberapa postingan lain memang bisa dianggap sebagai ujaran kebencian karena terang-terangan menyerang satu kaum atau satu agama dengan bahasa yang kotor.

Dari data yang saya dapat ternyata ada juga kasus persekusi yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Jadi ada yang sengaja membuat akun palsu mengatasnamakan seseorang, lalu membuat status yang menghina atau melecehkan. Akibatnya, si orang tersebut menjadi target persekusi, padahal dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Beruntung si korban bisa membuktikan kalau akun itu bukan akunnya, tapi dibuat entah oleh siapa dan entah dengan tujuan apa.

 

[WHERE] Di Mana Saja Persekusi Terjadi?

Dari data yang dikumpulkan oleh SAFENet hingga 16 Mei 2017, tindakan persekusi terjadi hampir di semua wilayah Indonesia. Membentang dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi hingga Bali. Ada satu kasus lagi di mana target buruan atau korbannya berada di luar negeri, tepatnya di Manchester-Inggris.

Rataan wilayah kejadian persekusi bisa dibilang cukup merata. Jakarta memang paling banyak, tapi jumlahnya tidak terlalu mencolok dibanding kota-kota lainnya.

 

Data sebaran kasus persekusi

 

[HOW] Bagaimana Persekusi Dilakukan?

Persekusi dilakukan oleh sebuah kelompok setelah adanya status dari orang yang mereka anggap melecehkan dan menghina agama atau ulama. Di Facebook ada beberapa grup yang khusus dibuat untuk mendata siapa-siapa saja yang dianggap melecehkan atau menghina tersebut.

Data diri sang target dipaparkan secara mendetail, dari foto wajah hingga alamat rumah atau alamat tempat dia bekerja. Ajakan untuk memviralkan pun diajukan, disertai dengan ajakan untuk beramai-ramai mendatangi target. Pada beberapa kasus persekusi berakhir dengan teror kepada target, baik yang dilakukan sendirian maupun berombongan. Di kasus lain teror tidak berhenti sampai di situ saja, target bahkan terpaksa harus mengundurkan diri dari tempatnya bekerja atau kantornya yang terpaksa memecatnya. Tentu karena ada desakan dari pihak tertentu.

Untuk kasus yang lebih ringan, target akhirnya mengakui kesalahannya dan bersedia meminta maaf setelah didatangi oleh kelompok tertentu. Tanpa mempertimbangkan apakah permintaan maaf itu tulus atau karena merasa terancam, kasus itu kemudian dianggap sudah selesai.

*****

Begitulah. Media sosial Indonesia belakangan ini menurut saya makin menyeramkan. Panasnya suhu politik ternyata berimbas juga ke media sosial. Beberapa kelompok merasa punya kuasa melebihi kuasa aparat untuk memburu dan menekan orang lain, sementara di sisi lain masih ada juga orang yang kebablasan membuat status di media sosial. Klop sudah!

Pada akhirnya saya akan kembali mengulang petuah untuk bijak untuk tetap bijak bermedia sosial. Think before post atau berpikirlah sebelum membuat status. Pun, tak perlu berlebihan menanggapi sebuah status. Bila memang dianggap itu sebagai ujaran kebencian yang berlebihan, laporkan saja pada aparat hukum. Biar mereka yang mengurusnya, karena bukan tugas kita untuk bertindak sendiri atas nama hukum.

Selamat berpuasa kawan-kawan!

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz