APAKAH SETYA NOVANTO MENGIDAP PENYAKIT MALINGERING?

“Kalo SetNov makan cabe, yang kepedisan cabenya.”

“Kalo SetNov kejeduk pintu, yang benjol pintunya.”

“Kalo SetNov nabrak tiang listrik, yang ditilang tiang listriknya.”

 

Berhubung tempat kerja saya agak sulit sinyal—jika tak mau dikatakan hampir tak ada sinyal—dan juga terlampau sering listrik padam, saya jadi tak update dengan kabar berita terkini. Eh, begitu sinyal lancar jaya, yang muncul di timeline adalah postingan-postingan bernada mengejek dan tak bisa dipungkiri membuat saya sulit menahan tawa. Warganet sekarang ini memang sangat kreatif—jika tak mau dikatakan mengerikan. Bagaimana tidak? Apapun bahannya bisa mereka jadikan lelucon. Tak elak kasus Setya Novanto pun demikian. Di atas adalah contoh yang saya dapati saat membuka halaman Facebook saya.

Berita terkini mengenai kecelakaan yang baru saja dialami oleh ketua DPR RI kita ini pun tak luput dari serangan netizen. Ada yang kasihan dan mendoakan kesembuhan beliau, ada pula yang berpendapat bahwa itu hanya pura-pura belaka untuk menghindar dari jerat hukum. Yah, seperti yang kita ketahui, Setya Novanto didakwa dan dituduh dalam kasus korupsi KTP elektronik. Namun, entah bagaimana, beliau selalu mangkir dari penyidikan dengan dalih  masuk rumah sakit. Mungkin hal inilah yang membuat banyak orang geram dan gusar sehingga menuduh beliau hanya berpura-pura sakit saja agar dapat menghindari hukuman,  disaat ia mengalami kecelakaan parah dan oleh dokter dikatakan berpotensi mengalami geger otak.

Baca Juga: Sebelum Marah-Marah di UGD, Kamu Harus Baca Ini!

Tapi, tahukah kalian? Ternyata, berpura-pura sakit dalam ilmu kedokteran termasuk dalam suatu kondisi seperti gangguan jiwa dan biasanya disebut dengan istilah “Malingering”. Malingering itu sendiri adalah suatu tindakan berpura-pura sakit dengan menampakkan gejala fisik atau psikologis yang palsu atau terlalu berlebihan—bahkan bisa dilakukan dengan sengaja mencederai diri sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian, mencari sensasi dan juga untuk menghindari hukuman.

Contohnya saja, ada anak yang tidak mendapatkan perhatian orang tuanya karena terlalu sibuk bekerja, akhirnya berpura-pura sakit karena ingin orang tuanya tetap berada di rumah untuk menjaganya. Contoh lain, seorang siswa yang tidak mengerjakan tugas sekolahnya berpura-pura tidak enak badan agar tak perlu pergi ke sekolah dan mendapatkan hukuman dari gurunya. Contoh lainnya lagi, seorang pejabat didakwa dengan tuduhan korupsi, kemudian ia berpura-pura sakit—entah itu sakit jantung, sakit tenggorokan ataupun bahkan terlibat kecelakaan—untuk menghindari hukuman, menunda persidangan dan lain sebagainya.

Malingering diduga kuat jika dari hasil pemeriksaan menunjukkan tidak adanya hubungan antara keluhan pasien dan temuan objektif yang didapatkan. Kemudian, biasanya pasien kurang kooperatif selama evaluasi diagnostik dan menolak untuk mematuhi pengobatan yang diberikan. Dan yang paling sering terjadi, biasanya adanya rujukan dari pengacara pasien untuk pemeriksaan klinis ketika akan atau sedang dalam proses hukum. Kadang, kondisi sakit pasien terlihat aneh karena tak ada riwayat sebelumnya dan penyakit tersebut muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Jadi, untuk membedakan malingering dengan sakit yang sesungguhnya, tentu saja dibutuhkan keahlian seorang dokter.

Back to bapak ketua DPR RI kita tercinta, pokoknya, terlepas dari apakah sakit beliau Malingering atau bukan, semoga lekas sembuh ya Pak Setya Novanto! Biar gak ada lagi yang buruk sangka sama Bapak. Biar gak ada lagi yang nyinyir sama Bapak. Biar semua tuduhan yang diberikan untuk Bapak bisa segera diproses dengan seadil-adilnya dan semoga saja semua yang dituduhkan kepada Bapak tak benar adanya seperti yang selalu Bapak katakan kepada media. Lekas sembuh, Pak!

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz