Bagaimana Mereka Belajar di Sekolah? Penulis: Evhy Kamaluddin

Punya keluarga, sahabat, teman, tetangga, atau kenalan dengan disabilitas netra? Jika iya, coba perhatikan sejenak. Pada saat belajar, misalnya. Bagaimana ia melakukannya? Namun sebelum merambah jauh, mari kita bangun pemahaman yang benar tentang tunanetra. Hayuk, kepoin!

 

“Belajar adalah hak setiap orang” -evhykamaluddin

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tunanetra berarti tidak dapat melihat atau buta. Namun kategori ini sebenarnya bukan hanya ditujukan pada orang buta total, tetapi juga orang yang mengalami gangguan fungsi terhadap alat penglihatan yang tidak bekerja baik. Kelainan pada fungsi mata memiliki jenjang tersendiri dari yang ringan hingga berat.

Adapun tingkatan disabilitas netra yang pertama ialah kategori ringan (defective vision/low vision) adalah mereka yang memiliki hambatan dalam penglihatan akan tetapi mereka masih dapat mengikuti program-program pendidikan yang umum dan mampu melakukan pekerjaan/kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.

Lalu, tingkatan setengah berat (partially sighted) adalah mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan, hanya dengan menggunakan kaca pembesar mereka mampu mengikuti pendidikan biasa atau mampu membaca tulisan yang bercetak tebal. Terakhir kategori berat (totally blind), yakni mereka yang sama sekali tidak dapat melihat. Pada level inilah seorang dikatakan tunanetra total.  Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tunanetra sendiri belum tentu buta. Tetapi orang buta sudah pasti tunanetra.

Bagaimana tunanetra belajar?

Jika ditinjau dari intelektual yang dimiliki, seorang disabilitas netra umumnya memiliki tingkat intelektual yang sama seperti seseorang dengan penglihatan biasa kecuali terdapat penyakit tambahan seperti gangguan fungsi otak ataupun organ lainnya. Jadi, sangat besar kemungkinannya ada anak disabilitas netra yang pintar, cukup pintar, atau kurang pintar. Intelegensi yang dimiliki pun lengkap seperti kemampuan berbicara, menganalisis, berbaur, bersosialisasi, belajar, dan sebagainya. Mereka pun memilki perasaan seperti manusia pada umumnya yakni perasaan bahagia, sedih, marah, kecewa, gelisah, senang, dan sebagainya.

Oleh karena itu, mereka masih dapat mengikuti jenjang pendidikan seperti anak pada umumnya bergantung penanganan yang diberikan. Sebenarnya penanganan pertama dalam hal peningkatan pendidikan pada anak tunanetra adalah bagaimana seorang anak menerima keadaan dirinya, kemudian diterima oleh keluarganya sehingga timbul rasa percaya diri untuk menjalani hidup. Setelah timbulnya rasa percaya diri akan timbul dorongan untuk belajar dan mengasah kemampuan untuk hidup yang lebih baik. Selanjutnya tinggal mengkonsultasikan keinginannya kepada pihak sekolah.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi sebuah yayasan pendidikan tunanetra di Makassar, YAPTI (Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia). Di sana saya mengunjungi kelas-kelas yang ada dan sedikit berbincang-bincang dengan guru dan murid-muridnya. Di yayasan ini terdapat kurang lebih 40 orang peserta didik disabilitas netra mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA.

Ada fakta menarik saya ketahui tentang jumlah siswa yang ada di sekolah ini. Menurut salah seorang pengampu mata pelajaran Sejarah SLB-A YAPTI, mengajar seorang siswa(i) disabilitas netra seperti mengajar sepuluh orang di sekolah umum. Oleh karenanya, lima orang adalah jumlah yang dianggap banyak. Pantas saja ketika memasuki kelas-kelas yang ada hanya terdapat dua hingga tiga orang saja di dalam kelas karena jumlah maksimal siswa dalam satu kelas hanyalah lima orang saja. Ini dikarenakan diperlukan perhatian khusus agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal.

Dari segi usia, belajar di sekolah adalah hak siapa saja selama memiliki keinginan untuk belajar. Seperti kata pepatah, tidak ada kata terlambat untuk sekolah. Misalnya saja Agustinus, seorang laki-laki tunanetra yang berusia 24 tahun yang saat ini duduk di bangku SD kelas 6. Ia menjadi tunanetra ketika duduk di kelas tiga sekolah dasar karena jatuh. Namun barulah tiga tahun lalu ia melanjutkan sekolah kembali. Ini dikarenakan orang tuanya baru memasukkan dirinya di sekolah tersebut.

Dalam sistem pendidikan bagi orang penyandang disablitas netra, pembelajaran tidak dilakukan dengan menggunakan papan tulis namun lebih kepada mendeskripsikan sesuatu. Hal ini dikarenakan mereka lebih banyak memanfaatkan indera lain khususnya pendengaran dan indera peraba. Indera peraba disini yakni tangan ataupun kaki yang digunakan oleh tunanetra untuk mengenali benda-benda dari sentuhan tangan/kaki.

Untuk pembelajaran di sekolah sendiri, ada beberapa alat bantu yang digunakan agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. Alat bantu tersebut bergantung pada fungsinya. Ada alat bantu peraga, alat bantu tulis, alat bantu cetak, alat bantu optik, dan alat bantu pendengaran. Alat bantu peraga dapat berupa alat bantu yang dapat diamati dengan diraba atau dilengkapi dengan suara. Misalnya saja peta timbul yang dapat disentuh, ketika disentuh terdengar suara menyebutkan nama daerahnya.

Braille dan Perkembangan Teknologi

Untuk alat bantu tulis dapat digunakan alat menulis Braille. Alat bantu cetak terdapat mesin ketik Braille ataupun printer Braille. Untuk alat bantu optik digunakan kaca pembesar ataupun kacamata dengan lensa pembesar, namun ini hanya dapat digunakan bagi low vision atau anak disabilitas netra sebagian. Sedangkan alat bantu pendengaran dapat berupa talking book (buku yang berbicara), CD, dan kaset.

Oh iya, untuk dapat melanjutkan proses pembelajaran utamanya di jenjang awal seorang tunanetra harus dapat membaca dan menulis. Karena penglihatan yang terganggu, seorang tunanetra tentu sulit mengenali huruf-huruf biasa (huruf awas/alfabet) seperti A, B, C ,D, dan seterusnya. Demi memudahkan mereka mengenal huruf agar dapat membaca dan menulis, diciptakanlah huruf khusus yakni huruf Braille. Huruf Braille ini merupakan sistem penulisan sentuh berupa titik-titik timbul yang mewakili huruf/karakter tertentu.

Beberapa simbol Braille yang mewakili beberapa karakter

 

Alat bantu untuk menulis huruf Braille

Seiring dengan berkembangnya teknologi, saat ini para tunanetra dapat menggunakan alat elektronik seperti laptop, komputer, dan ponsel pintar. Dengan bantuan aplikasi pembaca layar, mereka dapat menggunakan perangkat tersebut sebagai alat bantu proses belajar. Aplikasi tersebut dapat membaca tulisan yang ada di layar elektronik. Selain itu, jika kita menekan tombol papan tombol-tombol huruf di ponsel, maka seketika akan diubah menjadi suara. Contohnya, ketika kita menekan tombol “A” maka akan terdengar suara “A” versi Bahasa Indonesia.

“Laptop dan hp dengan aplikasi pembaca layar sangat membantu sekali dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah” ungkap Risya, seorang mahasiswi disabilitas netra yang kuliah Jurusan Sastra Bahasa Indonesia Universitas Hasanuddin ketika diwawancarai via Facebook.

Hal ini juga diakui oleh seorang guru Bahasa Indonesia di YAPTI bahwa penggunaan teknologi ini cukup membantu, tentunya bagi orang-orang yang mampu memilki alat elektronik tersebut. Misalnya dalam menganalisa teks sastra yang tersedia, tinggal di foto lalu aplikasi pembaca layar akan membaca teks yang ada dalam foto.

Namun tetap saja penggunaan teknologi ini tidak dapat menggantikan huruf Braille. “Huruf Braille adalah ciri khas seorang tunanetra. Jika ada tunanetra yang tidak bisa membaca huruf Braille sama saja dengan buta huruf,” tegas Pak Kandacong, guru Bahasa Indonesia di YAPTI yang juga mengalami disabilitas netra. Oleh karenanya, pembelajaran membaca dan menulis menggunakan Braille tidak dapat ditinggalkan meskipun dengan perkembangan teknologi yang ada.

Selain pembelajaran di dalam kelas, ada juga kegiatan-kegiatan lainnya yang biasa mereka lakukan. Seperti kegiatan di Mushollah yakni kegiatan pengajian bulanan, hafalan Al-Qur’an, dan Qiro’ah. Kegiatan lain adalah pelatihan Braille, komputer, belajar musik, olahraga judo, dan lain sebagianya. Di YAPTI sendiri, para tunanetra sering mengikuti berbagai lomba baik lomba umum maupun lomba yang khusus diadakan bagi orang dengan disabilitas.

“Di sini sering mengikuti lomba, bahkan lombanya bukan lagi tingkat daerah tapi tingkat nasional” tutur Ilham seorang siswa tingkat SMA kelas 1 sekaligus ketua OSIS di YAPTI. Adapun lomba-lomba yang pernah diikuti seperti lomba judo, lomba nyanyi, lomba lari, lomba catur, lomba band tingkat Sulawesi Selatan dan masih banyak yang lainnya. Berdasarkan penuturan sang ketua OSIS, juara tertinggi yang pernah diraih untuk lomba nasional adalah medali perak untuk cabang olahraga judo dan lari.

Hal ini membuktikan bahwa anak dengan disabilitas netra memang dapat menjalani berbagai aktivitas dalam keterbatasan penglihatannya meskipun dilakukan dengan cara yang sedikit berbeda. Ini sebagai pengingat bagi kita agar tidak merendahkan atau memandang sinis pada mereka yang menyandag disabilitas netra. Karena sesunguhnya  itu bukan penyakit, hanya gangguan fungsi mata yang menyebabkan seorang tak mampu menggunakan penglihatan dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.

Saya jadi teringat sebuah artikel yang ditulis oleh seorang tunanetra yang belajar di sekolah inklusif1. Berdasarkan pengalaman Ria, seorang gadis disabilitas netra yang masuk ke sekolah inklusif tingkat SMA, kesuksesan pendidikan seorang tunanetra bergantung pada dorongan dan bantuan orang-orang yang ada di sekitarnya. Entah itu secara moril, akses, maupun penerimaan dirinya dengan tangan terbuka tanpa adanya diskriminasi di lingkungan sekolah. Dorongan kuat serta telaten dari orang tua, guru, masyarakat, dan teman-teman di sekolah akan sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan kesuksesan sang tunanetra di berbagai bidang.

Mengunjungi YAPTI dan bertemu langsung dengan teman-teman penyandang disabilitas netra menyadarkan saya akan kemampuan mereka yang sesungguhnya tidak banyak berbeda dengan kita, orang-orang yang menyebut diri mereka “normal”. Mereka juga manusia biasa yang punya banyak potensi dan kemampuan, sudah seharusnya mereka juga diperlakukan sama dan diberi kesempatan yang sama.

Mengutip Patton (1991) di sebuah konferensi internasional2 di Amerika pada 1930, “Seseorang dikatakan buta jika tidak dapat mempergunakan penglihatannya untuk kepentingan pendidikannya” Nah, mari terus belajar. Jangan sampai kita menjadi orang buta yang sebenarnya.

Catatan kaki:
  1. Pendidikan inklusif adalah pendidikan reguler yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus pada sekolah reguler dalam satu kesatuan yang sistemik. Dalam bahasa sederhananya, sekolah inklusif ini merupakan satu sekolah untuk semua
  2. The White House Conference on Child Health and Education. 1930
Referensi:
  1. Corn & Koenig. (1996). Foundation of Low Vision: Clinical and Functional Persfectives. New York: American Foundation for the Blind Press.
  2. Jamila K.A, Muhammad. (2008). Anak-Anak yang Bermasalah. Bandung: Mizan.
  3. Sumiyati Yeti. (2014). Makalah Bimbingan dan Pendidikan Anak Tunanetra. [Online]
  4. Andriani, Ria. (2018). Pahit Manis Menjalani Pendidikan di Sekolah Inklusif. (Pemenang Lomba Mengarang Pertuni 2008 dengan tema : Akses Tunanetra ke Lembaga Pendidikan Umum dalam Setting Pendidikan Inklusif)

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz