Berkebun di Halaman, Kenapa Tidak? Penulis: Enal Gattuso

Berkebun katanya susah, harus punya lahan luas. Eh, siapa bilang? Kalau kamu kepo kami bisa tahu kalau berkebun juga bisa dilakukan di halaman rumah loh!

—–

Tak jarang kita jumpai pemilik rumah bersenda gurau dengan tetangganya di beranda depan rumahnya. Ada banyak hal yang mereka bicarakan dan sering kali hingga lupa waktu. Yah itulah halaman, ruang yang paling terbuka dari rumah atau bangunan.

Bisa jadi adalah halaman rumah adalah ruang sosialisasi terakhir dengan lingkungan luar sebelum kita masuk dalam zona yang lebih privat. Layaknya, rumah adalah tempat untuk mengistirahatkan badan dari berbagai rentetan aktivitas, sementara halaman adalah zona penghubung antara dunia luar rumah dan dalam rumah.

Sebagai zona penghubung, baiknya halaman memberi kesan tersendiri sehingga saat kita berada di dalamnya, kita bisa merasakan hal yang betul-betul berbeda dari kedua zona itu. Banyak aktivitas yang sering kita lakukan di halaman, seperti berolahraga, mencuci kendaraan, memberi makan ikan di kolam, menyiram taman, atau hanya sekedar mereguk kopi sambil baca koran.

Halaman juga bisa dijadikan sebagai lahan untuk berkebun. Ketersediaan air menjadi alasan utamanya. Kebun di halaman dapat menjadi ruang sosialisasi yang menarik, baik antar sesama penghuni rumah maupun antara pemilik rumah dengan tetangga. Kehadiran kebun di halaman dapat meningkatkan produktivitas. Dari sisi ekologi, hadirnya tanaman di halaman secara langsung dapat memperbaiki visualisasi dengan warna segar dedaunan, bunga dan buah.

Udara sejuk yang dihasilkan serta hadirnya makhluk hidup lain seperti burung dan kupu-kupu yang secara alami akan membuat halaman lebih harmonis. Sampah organik yang dihasilkan dapat diolah menjadi kompos sehingga secara tidak langsung kita mengurangi volume sampah ke tempat pembuangan sampah.

Aktivitas berkebun yang dilakukan bersama dengan anggota keluarga dapat meningkatkan kualitas hubungan yang lebih dinamis. Dapat juga dijadikan sebagai laboratorium alami terutaman bagi anak-anak. Berbagi hasil kebun dengan tetangga juga meningkatkan nilai keakraban. Secara ekonomi, pasar lebih dekat dengan dapur, artinya bahwa segala kebutuhan sayuran bisa terpenuhi dengan kualitas yang terjamin karena proses produksinya terkontrol. Panen yang berlebih pun dapat dijual ke tetangga atau ke pasar.

Lalu bagaimana melakukan aktivitas berkebun dengan kondisi lahan yang terbatas? Perhatikan sketsa di bawah ini, pada lahan yang hanya seluas satu meter persegi, kita masih bisa menghasilkan sayuran.

Melalui sistem tanam bertingkat atau vertikultur, kita bisa memaksimalkan keterbatasan luas lahan. Dengan demikian, setiap tanaman mendapatkan ruang tumbuh dan penyinaran yang merata. Bercocok tanam dengan vertikultur bisa dibaca di vertikultur lahan sempit. Jika halaman lebih luas, dapat dibuat planter box seperti ini.

Tidak semua benih dapat ditanam langsung sehingga perlu dibibitkan terlebih dahulu. Sebagai rumah sementara, kita bisa memanfaatkan botol atau gelas air mineral, ataukah bilah bambu, maupun tempat-tempat lain yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Yang penting adalah wadah tersebut cukup menampung perakaran hingga bibit di-transplanting atau ditanam di tempat produksinya. Baik wadah maupun media tanamnya harus steril. Media tanam untuk persemaian dapat berupa campuran sekam bakar, pasir dan kompos.

Kita bisa memanfaatkan pot sebagai wadah tanam selain planter box. Ukuran pot pun harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam di dalamnya. Seperti terong misalnya, butuh pot dengan ukuran diameter 40 cm agar akarnya dapat berkembang dengan baik. Pot dengan ukuran diameter 20 cm cukup untuk menunjang tanaman seperti selada dan sawi-sawian.

Polybag juga dapat dimanfaatkan sebagai wadah. Sama halnya dengan pot, ukuran berbanding lurus dengan tanaman yang akan ditanami. Karena polibag tidak tahan lama, sebaiknya jangan menanam tanaman yang berjangka panjang. Yang harus diperhatikan saat mengisi polibag adalah memastikan polibag berdiri tegak, tidak miring atau terlipat, media padat agar tanaman tidak mudah goyah. Jika media kurang padat maka tanaman mudah goyah, terutama saat dipindahkan, sehingga akar dapat patah dan tanaman pun akan mengalami stres. Saat membeli polibag, pilih yang berwarna hitam pekat, jangan memilih yang kelihatan buram. Biasanya yang buram lebih cepat sobek.

Tak hanya itu, wadah bekas pun dapat dimanfaatkan sebagai wadah tanam. Lagi-lagi volumenya harus disesuaikan dengan ukuran tanaman agar tanaman dapat berpotensi untuk menghasilkan sesuai dengan kapasitasnya. Ember yang sudah bocor, kaleng makanan, botol bekas air mineral dan minuman soda, ban mobil, dan potongan pipa adalah beberapa yang bisa dimanfaatkan sebagai wadah tanam. Media tanam yang digunakan pun standar saja, berupa campuran tanah, kompos dan arang sekam dengan perbandingan volume 2:2:1. Porositas media tanam harus bagus agar air siraman dapat meresap baik ke dalam media dan mudah bagi akar untuk menyerapnya.

Yang paling penting adalah bagaimana perawatan terhadap tanaman agar pertumbuhannya baik, subur serta bebas dari gangguan hama dan penyakit. Selain penyiraman dan pemupukan yang secara kontiniu dilakukan, pengamatan juga harus rutin dilakukan. Ada atau tidaknya hama maupun pembawa penyakit yang datang tak diundang. Langkah pencegahan sedini mungkin dilakukan dengan pemberian pestisida nabati. Banyak ramuan-ramuan yang secara alami dapat mencegah datangnya hama dan penyakit pada tanaman. Daun sambiloto, daun nimba, daun pepaya, brotowali adalah beberapa bahan yang sering digunakan sebagai pestisida nabati.

Bagi yang senang memelihara ikan, pemanfaatan buangan ikan juga sangat baik untuk pertumbuhan tanaman. Aquaponik sebagai perpaduan antara memelihara ikan dan memelihara tanaman kini semakin marak digeluti. Bahkan sistem aquaponik ini diklaim sebagai budidaya tanaman yang paling organik. Sebelumnya, saya juga sudah menulis sedikit tentang aquaponik di sini.

Kegiatan berkebun di halaman selain untuk menghasilkan sayuran dan buah segar, berkebun juga bisa menjadi olah raga yang produktif. Berinteraksi dengan tanaman dapat membantu menghilangkan stres. Melalui rangkaian aktivitas berkebun, secara tidak langsung kita dilatih untuk disiplin, sabar dan ikhlas. Jadi tunggu apa lagi, ayo kembali ke halaman dan mulailah berkebun.

Selanjutnya Anda akan merasakan segala kebaikan dari berkebun, saya yakin itu.*

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz