Donor Darah dan Media Sosial Penulis: Asriadi

Sebegitu dekatnya kita dengan media sosial bahkan juga telah banyak mengubah cara kita dalam berkehidupan. Termasuk dalam hal kemanusiaan semisal donor darah. Kamu kepo bagaimana hubungan donor darah dan media sosial? Baca tulisan ini yuk!

——-

Seberapa dekat kita dengan media sosial sepertinya tidak perlu dijawab. Media sosial telah menjadi hal yang sangat tak terpisahkan dalam kehidupan bersosial.  Hingga tahun 2015 (sumber wearesocial.org), total pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 72 juta pengguna aktif. Hampir sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia.

Ini menandakan ponsel ceras sudah bukan menjadi barang mewah dan warganet Indonesia sudah intim dengan media sosial. Dari hal penting seperti berkomunikasi hingga foto-foto narsis  atau mengunggah letak posisi keberadaan kita kepada teman-teman telah menjadi hal yang lumrah.

Sebegitu dekatnya kita dengan media sosial bahkan juga telah banyak mengubah cara kita dalam berkehidupan. Saya merasa tak terhitung jumlah gerakan yang muncul dari media sosial. Tak terkecuali gerakan donor darah jempol ini. Kenapa saya katakan gerakan donor darah jempol? Karena gerakan ini menggunakan jempol untuk ikut membantu menyebarkan informasi orang-orang yang membutuhkan darah. Memanfaatkan media sosial tidak hanya sebagai tempat narsis, tapi juga bisa membuat kebaikan. Bayangkan tidak sedikit dari jumlah pertemanan di akun media sosial yang akan melihat dan juga tidak sedikit yang akan membagikan ulang oleh orang lain, dan begitu seterusnya. Sampai pesan itu menjadi viral.

Mulai dari Blood for Life hingga Lingkar Donor Darah dan masih banyak lagi. Gerakan ini mempertemukan orang yang butuh transfusi darah dengan calon pendonor. Kelihatannya simpel tapi jangan salah, tidak sedikit orang yang membantu setelah pesan berantai akhirnya tersebar. 


Dahulu kecemasan saya terhadap donor darah sebenarnya adalah bagaimana jika kita mendonorkan darah kepada bahkan orang tidak dikenal dan keesokan harinya tidak diminta-minta keluarga kita ternyata juga membutuhkan transfusi darah. Sedangkan pendonor baru bisa kembali mendonorkan darahnya yaitu setelah kurang lebih tiga bulan. Terlebih stok darah di Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) tidak selalu ada.

Tapi, kecemasan itu sirna dengan terbuktinya gerakan donor darah jempol ini begitu berhasil. Akan selalu ada orang yang akan membantu memenuhi kebutuhan darah, atau paling tidak akan ikut membantu menyebarkan pesan berantai tentang kebutuhan  darah di media sosial.

Masih segar ingatan kita di akhir tahun 2015, Muballiq mahasiswa dari Jurusan Fisika Universitas Hasanuddin yang menjadi korban tabrak lari membutuhkan banyak darah akhirnya kebutuhan darahnya terpenuhi setelah begitu banyak pesan donor darah tersebar di media sosial. Tidak hanya itu bahkan biaya operasinya juga terpenuhi. Itu membuktikan masih banyaknya orang-orang baik yang ingin melakukan amal kebaikan dan ikut membantu.

Kecemasan lain biasanya adalah masih banyak yang takut akan donor darah. Untuk hal yang satu ini silakan baca tulisan saya sebelumnya tentang kecemasan-kecemasan yang tidak perlu saat pertama kali donor darah di sini.

Jangan tanya apa manfaat donor darah, bahkan pesepak bola sekaliber Cristiano Ronaldo telah menjadi pendonor darah reguler. Dia bahkan tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol sampai tidak mentatto badannya karena ingin memastikan darahnya benar-benar sehat dan tidak membahayakan darahnya terhadap resipien. Cristiano Ronaldo tidak sedikitpun terganggu dengan rutinnya donor darah, dia bahkan tetap menorehkan begitu banyak prestasi sebagai pemain sepak bola.

 

Asriadi atau Dandi adalah seorang pegiat komunitas dan juga aktivis lingkungan

sumber: https://osdasriadi.wordpress.com/2016/01/07/donor-darah-dan-media-sosial/

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz