Kuliah di Jurusan Sastra? Memangnya Mau Jadi Apa? Penulis: Helmiyaningsi

Kami berkuliah di fakultas yang dijuluki tempat sejuta ilmu. Sejumlah khazanah sastra nan agung pernah kami telisik maknanya. Juga segala hal kehidupan yang terseret di dalamnya. Kami, mahasiswa sastra. Kepoin cerita kami di sini.

Nda lama mi jadi mahasiswa ki… Bisa mi ke kampus tanpa pakai seragam” tutur Nindi, salah satu siswa SMA 4 Watampone.

Mendengar percakapan itu membawa saya ketika lulus SMA beberapa tahun silam. Pemikiran tentang tidak enaknya menggunakan seragam setiap hari. Bagi saya seragam adalah penyiksaan yang tidak dipahami oleh mereka yang membuat aturan. Belum lagi di sekolah, saya hanya menggunakan seragam standar (baca; putih dan abu-abu). “Tidak seperti yang ada di televisi”, tutur saya dalam hati.

Namun, setelah menyandang gelar mahasiswa dengan segala rutinitas yang ada. Saya malah merindukan menggunakan seragam. Kenapa? karena setiap kali saat ingin ke kampus, saya akan menghabiskan waktu sekitar sejam hanya untuk duduk memandangi isi lemari.

Eh… tunggu dulu. Sebelum kebingungan tentang pakaian ini terjadi, ada kebingungan yang lebih menyiksa. “Mau lanjut dengan jurusan apa?” pertanyaan yang tidak hanya hadir dari dalam diri dan juga dari orang-orang sekitar.

***

Saat bersekolah dulu selain buku dan alat tulis, kalkulator adalah benda yang tidak boleh terlupakan untuk saya bawa. Alat ini begitu membantu saat menyelesaikan pembukuan seperti Neraca Lajur, Buku Besar dan Buku Penyesuaian.

Fakultas Ekonomi (FE) merupakan fakultas yang sangat berhubungan dengan jurusan saya di sekolah dulu. Belum lagi saat itu, saya begitu menginginkan menjadi seorang pegawai yang bergelut di dunia perbankan. Namun, hal itu tidak berjalan sesuai rencana. Sebab, saya tidak mampu melewati tes Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN).

Namun, hal itu tidak membuat saya putus asa. Sebab selain jalur SNMPTN, ada juga Jalur Non Subsidi (JNS) dan jalur Prestasi, Olahraga, Seni dan Keterampilan (POSK). Jadi, saya kembali mencoba dengan jalur yang lain yaitu POSK. Jalur ini memiliki persyaratan yaitu melampirkan sertifikat prestasi yang dimiliki. Tapi kekurangan dari jalur ini, adalah kita hanya bisa memilih satu jurusan saja. Berbeda dengan SNMPTN yang menyediakan tiga pilihan jurusan.

“Mimi, di Sastra mako masuk, Ambil mi jurusan Sastra Indonesia. Sedikit peminatnya, jadi tidak terlalu banyak saingannya” kata salah satu keluarga saat memberikan saran untuk memilih jurusan sastra saja.

Dengan begitu bayak pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti saran dari keluarga. Alhamdulillah saat pengumuman keluar, nama saya tercatat dalam daftar nama-nama yang lulus. Waktu itu, saya sangat bersyukur karena mampu menyandang gelar mahasiswa meski jurusan yang saya ambil bukanlah jurusan yang saya impikan.

“Minimal saya tidak menganggur”, kata saya dalam hati waktu itu.

Di Proses Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) tingkat universitas, saat semua mahasiswa berkumpul di salah satu aula terbesar yang dikenal dengan nama Baruga A.P Pettarani. Saat itu saya bertemu dengan beberapa teman semasa berada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dulu.

Vika       : Eh, Riri… (dengan nada yang sedikit berteriak karena ruangan yang sesak dipenuhi mahasiswa), fakultas apako?”

Riri         : Fakultas Ekonomi. Kau iyya?

Vika       : Saya di Fakultas Teknik. Kau iyya Mi, dimanako?

Mimi       : Di Sastra ka (dengan nada yang rendah).

Dengan segera Vika dan Riri pun tertawa mendengar jawaban saya.

Riri         : Ih, kenapa bisako ta’ lempar di sana? Mau ko jadi apa nanti?

Saya hanya membalas pertanyaan itu dengan melempar senyum saja.

Setelah itu, saya mulai berpikir bahwa ini hanyalah sementara. Di tahun berikutnya, saya akan kembali mendaftar di Fakultas Ekonomi. Ternyata, bukan hanya saya yang berpikiran seperti itu. Saat bertemu dengan teman-teman seperjuangan di Fakultas Sastra, hal itu menjadi perbincangan kita saat berkumpul.

“Apa itu nanti dipelajari di? Bahasa Indonesia ji kapang saja?” celetuk salah seorang teman.

Biarmi yang penting tidak belajar Matematika ki” ucap yang lain.

Memang benar, setelah menjalani perkuliahan di Fakultas Sastra kami sama sekali tidak pernah bertemu dengan mata kuliah yang menggunakan rumus perhitungan untuk menjawab soal. Tetapi, kami dipertemukan dengan setumpuk buku dengan berbagai kisah yang mampu membuat pikiran dan hati seolah terbawa ke masa di mana buku itu dituliskan. Membaca berbagai kisah dalam karya sastra, membuat kita mampu merefleksikan banyak hal, seperti lingkungan, stuktur dan keadaan sosial pada masyarakat yang berbeda zaman.

Waktu itu, roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer merupakan buku wajib yang direkomendasikan oleh banyak senior untuk dituntaskan. Roman ini menceritakan tetang seorang pribumi yang menyukai seorang gadis keturunan Belanda. Selain itu, roman ini juga bercerita tentang pertentangan kelas dan derajat, yang mana pribumi menempati urutan terakhir setelah kaum kulit putih, saudagar dari Arab dan priyayi. Hal ini mulai saya pahami, setelah saya mengikuti perkuliahan Sosiologi Sastra. Mata kuliah ini mengajarkan tentang cara melihat kondisi sosial yang ada dalam karya sastra dan hubungannnya dengan kondisi sosial pada keseharian.

Lebih spesifik lagi, Sosiologi Marxis akan membantu untuk melihat pertentangan kelas, golongan atau kelompok. Sebab Marx mengidentifikasi struktur sosial masyarakat menjadi dua kelas; kelas atas dan kelas bawah yang faktor utamanya didasarkan pada penguasaan alat-alat produksi pada zamannya. Kelas atas adalah kelas yang memiliki sarana produksi, sedangkan kelas bawah adalah mereka yang tidak memiliki alat-alat produksi. Relasi kelas ini menciptakan kelas dominan dengan subordinat; majikan dengan budak, tuan tanah dengan pelayan, dan borjuis dengan proletar.

Ilustrasi

Pada mata kuliah yang berbeda yaitu Psikologi Sastra, kita akan akan diajarkan untuk mengenal dan memahami berbagai karakter manusia. Berbagai macam karakter menuntut kita untuk memperlakukan mereka secara berbeda pula. Pada dunia nyata, tentu kita membutuhkan waktu yang lama serta kondisi lingkungan yang berbeda-beda untuk bertemu dengan 1001 karakter manusia.

Namun, dengan membaca berbagai karya sastra hal itu tidaklah menjadi sulit. Sebab, di setiap karya kita akan menemukan berbagai macam karakter. Misalnya dalam berbagai kasus kenakalan remaja. Menggunakan Teori Psikologi yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud, membuat kita memahami bahwa segala tindakan dipengaruhi oleh alam bawah sadar, sebagai salah satu aspek kepribadian manusia. Freud menyebutkan bahwa kepribadian manusia memiliki tiga struktur penting, yaitu id, ego, dan superego. (Minderop, 2013:15)

Saya ingin menjelaskan tentang id, ego dan superego, tapi karena takut dikira sedang memberi kuliah maka sebaiknya kalian mencarinya sendiri lewat fasilitas Googling.

***

Trachea (Tenggorokan), Larynx (Pangkal Tenggorokan)Pharynx (Rongga Anak Tekak), Dorsum (Punggung Lidah), Lamina (Daun Lidah), Apex (Ujung Lidah), Uvula (Anak Tekak), Denta (Gigi atas dan bawah), Labia (Bibir atas dan bawah), Mount Cavity (Rongga Mulut), Nasal cavity (Rongga Hidung).

Kamu anak kedokteran gigi? Jika iya, istilah-istilah di atas pastilah sangat dekat dengan kalian.

Kok bisa anak sastra tahu istilah-istilah yang digunakan anak kedokteran gigi?

Jika kedokteran gigi menggunakan istilah itu untuk menjelaskan bagian-bagian mulut dan berbagai penyakit yang sering terjadi di rongga mulut, maka kami anak sastra menggunakan istilah itu untuk menjelaskan proses artikulasi yang menghasilkan berbagai macam bunyi.

Misalnya, pada konsonan [p], [b], [m] dan [w] yang sering disebut konsonan bilabial, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan kedua belah bibir (Labia) yang bersama-sama bertindak sebagai artikulator dan titik artikulasi. Begitu pula untuk lonsonan labiodental, yaitu konsonan yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas (Denta) sebagai titik artikulasi dan bibir bawah (Labia) sebagai artikulator : [f] dan [v]. (Rokhman, 2016:24)

Selain belajar tentang proses terjadinya bunyi, kami juga belajar pentingnya memilih dan menggunakan diksi (kata) yang tepat. Sebab tidak dapat dipungkiri, penggunaan diksi yang kurang tepat akan mengaburkan makna dari apa yang ingin disampaikan. Bahkan pada titik tertentu, penggunaan diksi mampu membuat sesorang merasa terpuruk dan terawasi. Efek Panopticon; istilah yang diperkenalkan oleh Faucolt untuk menjelaskan hal tersebut.

Efek utama dari mekanisme panopticon adalah menimbulkan kesadaran diawasi dan dilihat secara terus-menerus pada diri seseorang. Kesadaran ini menimbulkan efek kepatuhan bahkan ketakutan. Mekanisme ini memungkinkan penguasa mengendalikan rakyatnya secara total, baik melalui mitos, doktrin maupun infrastruktur yang lebih modern seperti wacana. (Rokhman, 2016: 18)

Mekanisme panopticon dirancang pertama kali oleh Jeremy Bantham pada abad ke-18 untuk merekayasa kesadaran tahanan dalam penjara. Ia menciptakan menara pengawas di tengah bangunan penjara yang melingkar. Keberadaan menara tersebut dengan sendirinya menimbulkan ilusi pada para tahanan sehingga mereka merasa diawasi.

Hal ini ternyata juga digunakan dalam penggunaan bahasa. Di rumah misalnya, masih dapat ditemukan orang tua yang menyebut anaknya sebagai “anak manja” karena kerap merengek meminta sesuatu, atau “anak malas” karena jarang merapikan kamar. Meski hal itu berlangsung di wilayah domestik, tetapi sebutan itu seperti “penjara bahasa” yang membuat anak menjadi minder, sakit hati, atau putus asa.

***

Saat saya menjalani salah satu Tri Darma perguruan tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat, saya kembali merasakan kesedihan seperti di awal kelulusan tadi.

“Itu kakak Mimi suruh bantu buatkan puisi, kah dia tosseng anak sastra” kata Pak Bur, yang merupakan Sekretaris Desa (Sekdes) tempat saya menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hal itu dia sampaikan kepada Abdi -anaknya saat Abdi meminta tolong dibuatkan puisi untuk mengikuti lomba baca puisi di sekolahnya.

Dia berpikir, bahwa kami di sastra adalah orang-orang yang handal dalam menyusun kata-kata puitis. Memang kami belajar tentang puisi, tapi yang kami pelajari adalah cara menelaah puisi, bukan cara menulis puisi. Misalnya, pada frasa “mawar berduri” dalam sebuah puisi bisa diartikan bunga mawar yang sesungguhnya, perumpamaan dari wanita yang cantik tapi hatinya jahat, atau metafora untuk dosa yang tidak boleh dilakukan manusia.

Berbeda pandangan atau penafsiran dalam sastra adalah hal yang biasa. Hal ini menjadikan kami pribadi yang mampu menerima berbagai perbedaan. Selain itu predikat “kreatif” pun mulai melekat. Hal ini dikarenakan kami keseringan membaca novel atau cerpen sehingga kami memiliki daya imajinasi yang tinggi.

Pandangan saya tentang Fakultas Sastra pun mulai berubah. Bahkan, kesyukuran saya lulus di fakultas ini yang awalnya hanya karena tidak mau dibilang menganggur berubah menjadi kesyukuran yang begitu saya nikmati. Lagi-lagi saya bersyukur atas pencapaian yang saya dapatkan, termasuk atas lulusnya saya di fakultas sejuta ilmu ini.

Jadi, masihkah kalian akan memandang kami sebelah mata?

Sumber Pustaka:
  1. Kutha Ratna, Nyoman. 2009. Paradigma Sosiologi Sastra. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
  2. Minderop, Alebrtine. 2013. Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, dan Contoh Kasus. Pustaka Obor:Jakarta
  3. Rokhman, Fathur. 2016. Politik Bahasa Penguasa. Penerbit Buku Kompas: Jakarta

 

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Yani
Guest
Yani

Tulisan yang bagus…saya juga mantan mahasiswa sastra dan selalu bangga dengan pilihan saya.
p.s: tolong diperiksa kembali penggunaan kata “panapticon”. Sepengetahuan saya tulisannya “panopticon”.

Admin Utama
Admin

hai kak Yani, terima kasih untuk koreksinya 🙂

wpDiscuz