Siapa Bilang Pura-Pura Bahagia Butuh Banyak Energi? Penulis: Andi Citra Pratiwi

“Makan yang banyak, pura-pura bahagia butuh banyak energi.” Benarkah demikian? Yuk kepoin!

Belakangan ini, sering saya mendengar celotehan itu dari anak-anak muda. Mulanya, saya menerima begitu saja. Bahwa pura-pura bahagia menyerap begitu banyak tenaga. Namun, setelah menyimak sejumlah penjelasan bagaimana memanipulasi bahagia, saya tahu itu salah. Cukup dengan tersenyum. Saya menjadi terbiasa merekayasa senyum, hingga sungguh-sungguh tersenyum.

“Bagaimana rasanya jadi minoritas?”
“Ada makanan halal di sana?”
“Makanan di sana kan aneh-aneh, nda kangen masakan rumah?”

Sebagai mahasiswa muslim yang pernah hidup di tengah-tengah masyarakat non-muslim di negeri tetangga, saya seringkali dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya tak tersedia di mesin pencari. Biasanya mereka ingin tahu tentang keseharian selama menjadi mahasiswa magister pada salah satu universitas di Thailand. Setiap kali dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, saya selalu memberi jawaban yang diplomatis, apa adanya, dan tidak melebih-lebihkan.

Menurut saya, menjadi minoritas itu seru karena kita hampir selalu bisa menjadi perhatian. Layaknya bola merah di antara tumpukan bola putih. Soal makanan, saya tak perlu khawatir bahkan jika kangen masakan rumah, karena ada dapur khusus mahasiswa muslim untuk memasak makanan sesuai selera. Intinya, semua berjalan baik dan saya pun baik-baik saja.

Di antara semua pertanyaan yang saya temui, hanya sekali saya menerima pertanyaan tentang bahagia. Saat itu, saya sedang menatap layar komputer, berkutat dengan data-data hasil penelitian. Jam analog di sudut kanan layar komputer menunjukkan pukul 22:58 saat saya membaca pesan di akun Facebook, “Are you still happy?” Pertanyaan itu hampir saja meluruhkan bendungan air mata di balik kelenjar lacrimal.

Saya menarik napas dalam-dalam, lalu bersandar ke kursi, mencoba memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu. Saya tidak tahu, apakah saya masih berbahagia atau tidak. Satu hal yang pasti, semangat saya tidak lagi cukup menyusun sekian banyak data penelitian. Rutinitas penelitian terasa semakin sulit dan membosankan, namun saya harus berjuang sendiri mengumpulkan sisa-sisa semangat dan melawan keinginan untuk segera pulang. Ingin rasanya saya membalas pesan itu dengan deretan panjang keluh kesah. Namun, jemari saya hanya mengirim emoticon senyum dengan jawaban singkat “Sure, I’m still happy.”

Saya tidak bahagia sebagaimana yang disangkakan orang-orang. Saya hanya tidak terbiasa menunjukkan kesedihan, karena menurut saya itu kurang sopan. Di tengah-tengah kerinduan untuk segera pulang, saya harus berjuang menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang berjejal, berkutat dengan deretan tugas di ruang komputer selama berhari-hari. Sementara itu, saya juga masih harus mengobati diri sendiri karena dikecewakan dan diabaikan oleh beberapa orang yang pernah saya sebut sahabat. Rasa bosan, lelah, kecewa dan terabaikan muncul hampir bersamaan di semester akhir masa studi saya. Semua itu membuat saya nyaris menyerah.

Di antara berbagai kesulitan dan kesedihan yang saya rasakan, beberapa teman justru menilai saya selalu terlihat bahagia. Pak Prabu misalnya, seorang mahasiswa doktoral asal India, suatu siang menyapa dengan pernyataan yang menurut saya aneh.

“You always looks happy anytime I meet you. Always the same expression,” katanya.

Mendengar pernyataan itu, seorang teman lain menimpali “Yes, She is!”

Saya tertawa sambil menutup wajah karena malu. “Not really!” Jawabku singkat karena tak tahu harus berkata apa lagi.

Setelah mendengar komentar Pak Prabu siang itu, saya baru menyadari tentang ekspresi wajah yang selalu sama saat bertemu dengan teman-teman yang cukup dekat. Seringkali, saya bahkan tak mengucapkan apa-apa, hanya menyapa dengan senyum lebar, raut ekspresif, dan lambaian tangan. Terlihat bahagia karena menyapa dengan senyum boleh dibilang wajar, karena senyum memang merupakan respon alami tubuh saat kita merasa bahagia.

Kebiasaan tersenyum tidak hanya memberi kesan bahagia saat saya menyapa, tetapi juga saat saya sedang merasa sedih. Beberapa kali, teman sekamar saya di asrama menangkap ekspresi wajah bahagia justru di saat saya merasa sedih. “Someone looks so happy!” Begitu komentar Mit setiap kali menangkap ekspresi bahagia di wajah saya.

Sayangnya, tebakan Mit tidak selalu benar.

***

Sore itu, Saya meringkuk di atas ranjang sambil memejamkan mata. Kedua tangan dan kaki memeluk guling, dengan sisi kiri berada di bagian bawah. Sesekali terdengar suara gaduh dan langkah kaki Mit, mahasiswa Vietnam yang juga menghuni kamar 15419. Tercium aroma therapy dari arah meja belajarnya, sama seperti aroma wewangian Bali yang dibeli Ibu dua belas tahun lalu. Partikel wangi yang menyentuh saraf olfaktori di hidung tiba-tiba berubah menjadi partikel rindu dan bertumpuk di paru-paru. Saya rindu pulang.

Meskipun terlihat seperti orang yang tertidur pulas, saya sama sekali tidak berusaha untuk tidur. Saya sedang sibuk mengumpulkan sisa-sisa semangat untuk menyelesaikan bab empat dan bab lima tesis. Rasanya sudah sangat lelah, seperti kehabisan energi sebelum sampai di garis akhir. Segala rutinitas penyelesaian tesis terasa begitu membosankan hingga saya ingin menyerah saja dan segera pulang ke rumah. Tapi, pulang adalah hal yang mustahil jika tesis belum terselesaikan. Mana mungkin saya berani pulang tanpa membawa ijazah?

Masih sambil memejamkan mata, saya membalikkan badan 180 derajat ke arah kanan, seperti orang yang mengganti posisi tidur. Saya menyimak tawar menawar antara hati dan otak saya, harus menyerah atau tetap berjuang hingga akhir. Hati memohon agar saya menyerah saja, namun akal sehat selalu menolak. Otak saya berputar cepat, mencari cara agar saya tetap bertahan.

Saya tiba-tiba mengingat penjelasan Amy Cud, seorang psikiater yang mengkaji ekspresi non-verbal, tentang kemampuan tubuh untuk merekayasa pikiran. Menurut psikiater berambut pirang itu, bukan hanya pikiran yang dapat mempengaruhi bahasa tubuh kita, tetapi tubuh juga dapat mempengaruhi pikiran kita. Salah satu contoh paling sederhana adalah senyum. Senyum adalah ekspresi tubuh alami saat seseorang merasa bahagia. Jika seseorang merasa bahagia, tubuhnya akan merespon dengan tersenyum. Uniknya, seseorang yang menggerakkan otot wajahnya menyerupai orang tersenyum, misalnya dengan menarik kedua sudut bibirnya hingga semakin lebar, juga dapat merasa bahagia. Pesannya, tirulah ekspresi orang yang berbahagia hingga merasa benar-benar bahagia. Fake it till you make it!

Masih dengan mata tertutup, saya membalikkan badan mengarah tepat ke langit-langit kamar, menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Kedua tangan saya bergerak ke arah kepala membentuk huruf V, meniru bahasa tubuh seseorang yang baru saja memenangkan pertandingan, atau mungkin lebih mirip geliat anak kecil saat terbangun di pagi hari. Saya lalu meniru ekspresi wajah orang yang sedang tersenyum, mengontraksikan otot zigomaticus mayor yang meninggikan pipi dan juga otot orbicularis oris yang melebarkan bibir.

Saya mempertahankan ekspresi senyum tiruan itu beberapa saat. Dalam hati, saya mulai merasa lucu dan konyol karena memaksakan ekspresi senyum saat hati sedang berkeluh kesah. Meski dengan tingkah yang absurd, pikiran positif mulai muncul dari dalam otak saya. Teringat pesan seorang senior di bangku sekolah dulu, “Umpamakan tinta sebagai masalah, dan wadah sebagai pola pikirmu. Jika kamu hanyalah segelas air, maka setitik tinta akan dengan mudah menghitamkanmu. Tetapi, jika kamu adalah sebuah kolam yang luas, maka setitik tinta tak adan ada apa-apanya.”

Benar juga kata-katanya. Masalah itu hanya tentang persepsi. Tak ada masalah yang benar-benar berat, tergantung bagaimana kita menilai masalah itu.

Berbagai pikiran positif mulai menyeruak dari dalam otak saya, saat Mit tiba-tiba berteriak dari arah kanan, “Cit, what are you doing? Smiling while sleeping?” Mit ternyata memperhatikan tingkah konyol saya saat itu.

Saya lalu bangkit dari tempat tidur dan memamerkan senyum lebar pada Mit “Hehehe. No, I’m not sleeping.

“Happy?” Mit mencoba mencari tahu.

“Nope, I’m just trying to recover myself” saya berceloteh dalam hati, memamerkan senyum lebar seraya bergegas ke kamar kecil.

***

Sedih adalah hal yang manusiawi, semua orang pasti pernah mengalaminya.  Tetapi, setiap orang punya cara unik mereka sendiri untuk bangkit dari kesedihan. Seperti beberapa mahasiswa Jurusan Biologi di salah satu universitas di Kota Makassar yang saya temui sore tadi.  Mereka memiliki pengalaman unik masing-masing dalam mengatasi kesedihan.

“Saking sedihnya, saya mencuci piring, mencuci baju, hingga mengepel lantai tengah malam, jam dua belas. Saya juga suka nonton video-video lucu di Instagram. Satu lagi, makan, Kak.” Begitu kata Tirta Linda yang mengaku harus mencari kegiatan demi melupakan kesedihannya karena suatu masalah di kampus. Menonton video lucu di sosial media dan makan makanan kesukaannya juga menjadi cara jitu baginya dalam mengatasi kesedihan.

Berbeda dengan Tirta Linda, Kyrst Lyra memilih pendekatan spiritual untuk mengatasi kesedihannya, “Kalau sedih, saya biasanya berdoa dan menyanyi lagu rohani.”

Dean Rizalt Tadisara juga tak ketinggalan membagi rahasianya, “Saya berdoa dan berusaha membantu orang lain yang membutuhkan. Saat bisa membantu orang lain, saya jadi sadar banyak yang memiliki masalah lebih besar dari yang saya hadapi.”

“Masih ada cara lain kak, menertawakan masalah, atau mencari orang yang bisa ditertawakan.” Tirta Linda kembali mengungkap cara unik yang pernah dilakukannya untuk mengobati kesedihan.

Mendengar semua penjelasan teman-temannya dalam mengatasi kesedihan, Agil Saputra, memberi pandangannya tentang persepsi bahagia. “Bahagia itu subjektif, karena kita yang merasakan dan kita yang menilai, bukan orang lain. Jadi, wajar jika kebahagian orang itu berbeda-beda.” Penjelasan Agil ini memang benar. Bahagia itu kita sendiri yang rasa, bukan orang lain. Namun, kesimpulan itu nampaknya berasal dari sudut pandang sosiologis.

Jika kita menggunakan sudut pandang neurofisiologis, maka bahagia itu dapat dipandang sebagai persepsi otak berkat peningkatan neurotransmitter dopamin di dalam otak. Keterkaitan antara neurotransmiter dopamin dan emosi positif dijelaskan oleh Ashby et al. (1999), bahwa emosi positif dapat diasosiasikan dengan peningkatan jumlah dopamin di otak. Emosi positif inilah yang biasa kita sebut dengan persepsi bahagia.

Saat kita melakukan hal-hal yang kita senangi, misalnya melakukan hobi atau makan makanan kesukaan, otak kita menghasilkan dopamin, yang akhirnya menciptakan persepsi bahagia. Uniknya, tubuh kita memiliki kemampuan untuk mengingat persepsi bahagia tersebut sebagai reward positif. Tubuh akan merekam berbagai kegiatan yang dapat berujung pada perasaan bahagia. Itulah sebabnya, kita cenderung melakukan kembali hal-hal yang kita sukai saat dilanda rasa sedih. Sebenarnya, kita hanya mencari-cari cara agar tubuh kita menghasilkan lebih banyak dopamin.

Ada satu kalimat tentang bahagia yang cukup populer di kalangan pemuda saat ini, “Makan yang banyak, pura-pura bahagia butuh banyak energi.” Terhipnotis oleh kalimat ini, saya pernah berpikir bahwa pura-pura bahagia butuh banyak energi. Namun, setelah menyimak penjelasan Amy Cud tentang bagaimana merekayasa bahagia dengan senyuman,  saya akhirnya paham bahwa pura-pura bahagia tak butuh banyak energi, cukup dengan tersenyum. Saya menjadi terbiasa merekayasa senyum, hingga benar-benar tersenyum. Saya berpura-pura bahagia hingga benar-benar merasa bahagia. I fake it till i make it!

Bagaimana keterkaitan antara senyum dan persepsi bahagia? Senyum adalah respon alami tubuh saat merasa bahagia. Saat kita merasa bahagia (misalnya karena melakukan kegiatan yang kita senangi), produksi dopamin di otak meningkat, dan salah satu respon tubuh adalah tersenyum. Uniknya, hal sebaliknya juga dapat terjadi. Saat merekayasa senyum, produksi dopamin di otak menjadi lebih tinggi, dan kita pun dapat merasakan emosi positif.

Berbahagia itu seperti bersepeda, dengan putaran pedal sebagai produksi dopamin dan putaran roda sebagai senyuman. Saat kita mengayuh pedal, roda berputar, dan sepeda pun melaju.  Namun, saat kita menggerakkan roda sepeda dengan mendorong, pedal pun ikut berputar, dan sepeda juga dapat bergerak. Berbahagia itu seperti bersepeda, beberapa kali kita harus menapakkan kaki ke tanah untuk mendorong atau sekedar menahan agar tidak terjatuh, hingga kita dapat melaju dengan kencang.

Jadi? Sudahkah kamu bahagia hari ini?

 

Sumber bacaan:

  1. Amy Cud: Your Body Language Shapes Who You Are.
  2. Dfarhud, D., Malmir, M., & Khanahmadi, M. (2014). Happiness & Health: The Biological Factors- Systematic Review Article. Iranian Journal of Public Health, 43 (11): 1468-147.
  3. Ashby F. G., Isen, A.M., & Turken, A.U. (1999). A Neuropsychological Theory of Positive Affect and Its Influence on Cognition. Psychol Rev, 106: 529–550

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz