Suka Makan Manis-Manis, Hati-Hati Jerawat! Penulis: Andi Citra Pratiwi

Citra mengira bahwa makanan mengandung MSG satu-satunya penyebab jerawat di wajahnya. Sekarang ia sadar, kebiasannya mengkonsumsi makanan manis-manis berperan lebih besar memunculkan benjolan merah kecil tersebut. Mau tau lebih jelas, yuk kepoin!

“Jadi bagaimana, dok? Apa ada makanan yang perlu saya hindari?”

“Iya, kurangi jenis makanan yg mengandung MSG.”

Masih terekam jelas percakapan singkat dengan seorang dokter di salah satu klinik perawatan kulit empat tahun silam. Saat itu, dokter menyarankan mengurangi konsumsi makanan ber-monosodium glutamat (MSG), salah satu kandungan bahan penyedap yang menjadi rahasia gurihnya masakan di meja makan. Jadilah saya melewati hari-hari panjang dengan makanan yang nyaris datar tanpa penyedap rasa. Demi kulit wajah yang membaik.

Apa hubungannya makanan ber-MSG dan kulit wajah? Entahlah. Diduga, MSG menjadi salah satu pemicu jerawat. Sayangnya, usaha menjalani hari-hari datar tanpa penyedap tak memberi hasil signifikan. Kulit masih saja bermasalah dengan jerawat.

***

“Dengarkan, kamu harus berhenti makan cokelat!” pesan seorang teman.

“Kenapa harus berhenti?” saya protes.

“Cokelat merk ini kan banyak mengandung gula, dan gula berlebih memicu jerawat. Kamu beli banyak krim wajah, tapi tetap makan gula, mana bisa kulitmu sembuh.” katanya tegas sambil mengakhiri percakapan kami hari itu.

Namanya Mit, mahasiswi jurusan teknologi makanan, yang waktu itu menganjurkan menghentikan konsumsi cokelat, snack, dan semua jenis makanan manis. Katanya, makanan manis bisa memicu jerawat. Tapi, sejauh pengetahuan saya, makanan manis itu pemicu kegemukan. Apa hubungannya manis dan jerawat? Lagipula, mana bisa saya menghentikan konsumsi gula? Makanan manis itu sumber kebahagiaan saya. You ask me to stop eating sweet? NO!

***

Meskipun belum menghentikan kebiasaan konsumsi makanan manis, saya mulai mencari tahu. Apakah benar gula mampu memicu jerawat? Dari mesin pencari Google, saya akhirnya harus membenarkan pernyataan Mit. Informasi yang terkumpul dari berbagai artikel sekelas www.ncbi.nlm.nih.gov cukup membuat saya menyesal telah menolak anjurannya. Menurut berbagai penelitian empiris, kadar gula tinggi dalam darah berpotensi menimbulkan jerawat.

Bagaimana gula bisa berkaitan dengan masalah kulit yang satu ini? Dalam hal ini, gula sebenarnya berperan sebagai pemain belakang layar. Pemeran utamanya adalah “kelenjar minyak” yang aktif memproduksi sebum (minyak) secara berlebih. Kombinasi sebum berlebih dan sel kulit mati di permukaan kulit akhirnya menyumbat pori. Pori yang tersumbat lalu menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan bakteri. Tubuh akan merespon kehadiran bakteri (sebagai bentuk pertahanan non spesifik) dengan inflamasi. Oleh karenanya, jaringan kulit disekitar pori membengkak dan memerah, menjadi benjolan yang disebut acne.

Dyhidrotestosterone (DHT), diketahui sebagai jenis hormon penyebab aktifnya kelenjar minyak memproduksi sebum berlebih. Ketika seseorang mengonsumsi gula secara berlebih, yang menyebabkan kadar gula dalam darah melampaui batas normal, tubuh akan berusaha mengubah glukosa darah ini menjadi glikogen yang disimpan di otot. Untuk mengubah glukosa darah menjadi glikogen, hormon insulin dihasilkan. (Ingat pelajaran Biologi waktu SMA, kan? Insulin bertugas mengubah glukosa menjadi glikogen).

Seperti sebuah tempat penampungan, jumlah glikogen yang dapat ditampung otot ada batasnya. Ketika kapasitas tubuh menampung glikogen sudah penuh, tubuh menjadi kurang peka terhadap insulin. Kondisi inilah yang disebut “insulin resistance.

Saat kadar glukosa darah tinggi, namun tubuh sudah mengalami resistensi terhadap insulin (insulin resistance), tubuh akan terus-menerus memproduksi insulin untuk mengubah glukosa menjadi glikogen. Namun, kondisi resisten tadi menyebabkan glukosa darah tetap tinggi. Alhasil, kadar insulin dalam darah melebihi batas normal.

Kadar insulin yang tinggi berperan dalam pembentukan Insuline Like Growth Factor 1 (IGF-1) yang mengaktifkan produksi sebum. Tidak hanya mengaktifkan IGF-1, insulin juga mengaktifkan hormon DHT yang juga berperan dalam produksi sebum berlebih.

Singkat cerita, kadar gula darah yang tinggi dapat berujung pada produksi IGF-1 dan DHT yang berperan memrpoduksi sebum di atas normal.

***

Sudah sering saya perhatikan, wajah menjadi lebih berminyak saat banyak mengonsumsi makanan yang manis manis. Hanya saja, menjalani hidup dengan asupan gula terkontrol, apalagi pola hidup Zero Sugar, masih sangat sulit.

Apakah suatu saat saya bisa mengontrol asupan gula? Apakah saya bisa meninggalkan deretan kudapan favorit? Entahlah. Tapi, harusnya saya bisa. Ini sama saja menanyakan apakah perokok bisa berhenti merokok? Jawabannya tentu bisa, jika mau berusaha! Pada akhirnya, semua memang butuh usaha. Semua butuh perjuangan.

Sepertinya saya sudah bercerita terlalu panjang. Intinya, saya ingin suatu saat nanti, bisa menjalani pola hidup sehat, dengan makanan sehat, dengan nutrisi yang baik. Seperti kata pepatah, “You are what you eat!” Atau seperti kata Hippocrates, “Let food be your medicine, and let medicine be your food.”

Kalau mau kepoin lebih banyak artikel tentang keterkaitan gula dan acne, boleh follow link berikut:

a. Korelasi IGF-1 dan Hormon Androgen
b. Bagaimana insulin menyebabkan Acne?
c. Bagaimana gula menyebabkan Acne?

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz