Merawat Sekeping Surga Tanah Muna: Danau Air Asin Napabale Penulis: Baizul Zaman

Jika ada bidadari kayangan yang hendak turun ke bumi untuk mandi, maka saya yakin dan percaya danau air asin Napabale akan menjadi pilihan utamanya. Ah. masak sih? Kepoin yuk kenapa bisa.

Bagi sebagaian masyarakat Kabupaten Muna, keindahan danau itu telah menjadi bagian cerita yang telah diwariskan secara turun temurun. Saya masih mengingat betul saat masih duduk di bangku sekolah dasar, cerita tentang keindahan tempat itu telah sering diceritakan oleh guru di ruang kelas. Cerita tentang keindahan alam Napabale dan segala bentuk keunikannya seolah menjadi cerita wajib dari guru-guru saya buat murid-muridnya. Tujuannya agar kecintaan kami terhadap objek wisata lokal yang ada di Kabupaten Muna selalu terpupuk dan terjaga.

Disebabkan keindahanya pula, banyak komponis lokal terinpirasi  menciptakan syair dan lagu yang menyanjung keindahan danau air asin Napabale ini. Salah satu lagu yang diciptakan berjudul “Kakesano Napabale” telah menjadi lagu favorit kaum muda-mudi Kabupaten Muna. Jika sedang memainkan gitar, saya sering mendendangkan lagu tersebut.

Pesona keindahan alamnya yang melenakan membuat saya berpikir sangatlah pantas danau air asin Napabale dijadikan salah satu destinasi wisata alam yang wajib dipromosikan. Selain jaraknya yang terbilang dekat, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Raha, airnya yang dingin dan berwarna biru muda menjadi daya tarik yang membuat pengunjung bisa jatuh hati pada danau ini.

Hijaunya dedaunan pohon yang berpadu warna biru langit yang dipantulkan pada permukaan air danau yang jernih semakin menambah pesona keindahan danau itu. Ditambah lagi semilir angin yang berhembus pelan seakan membisikan pada setiap pengunjung bahwa ada ‘kedamaian abadi’ di tempat itu.

Jika kita cermat menelisik setiap sudut danau, maka pengunjung akan menemui bagian unik. Pada salah satu bagian dinding, tersembunyi satu terowongan yang panjangnya 30 meter dan lebar 9 meter. Terowongan yang berfungsi sebagai jalur keluar masuknya air laut ke dalam danau juga sering digunakan sebagai jalur transportasi untuk keluar menuju lautan lepas. Terowongan dengan model dan ukuran sebesar itu jarang sekali bisa kita lihat. Pemandangan yang ditampilkan bagian dalam terowongan berpadu dengan kombinasi tenangnya air laut sungguh memanjakan mata saya.

danau asin napabale

Bagi masyarakat Muna, Danau Air Asin Napabale bukan hanya merupakan sebuah tempat rekreasi, namun juga merupakan bagian dari situs sejarah. Tempat ini menjadi saksi bisu berlangsungya proses kehidupan manusia pada masa lampau yang jejaknya tersimpan dengan jelas pada coretan-coretan dinding gua yang terletak tidak jauh dari lokasi danau.

Di sana kita bisa menyaksikan bagaimana ilustrasi aktivitas masyarakat Muna dahulu tergambar jelas. Mulai dari berburu, berternak, bercocok tanam, berperang sampai dengan aktifitas ritual mendekatkan diri kepada pemilik alam semesta yang disimbolkan dengan layang-layang.

danau air asin napabale

Saat terakhir kali berkunjung ke sana, saya menjumpai beberapa orang yang sudah berulang-ulang kali berplesiran ke danau air asin Napabale. Sama halnya dengan saya, mereka tidak pernah merasa bosan menghabiskan akhir pekan di danau Napabale. Seakan-akan, semakin sering melangkahkan kaki ke sana, maka semakin bertambah kecintaan terhadap tempat itu.

Dalam hati bergumam, memang wajar kalau tempat ini kalau dapat membunuh kebosanan bagi setiap orang yang berkunjung. Jejeran bebatuan cadas dengan ditumbuhi pepohonan hijau yang melingkar mengepung air laut dan membentuk danau serta embusan angin yang bertiup sepoi-sepoi itu seolah mengisyaratkan bahwa tempat itu memang sengaja diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menunjukan kepada manusia sedikit gambaran indahnya surga dunia.

Namun kemudian hati ini sedikit sendu memikirkan seperti apa nanti tempat ini dimasa yang akan datang. Akankah keindahan ini masih terus terjaga disaat banyak manusia khususnya generasi muda yang saat ini mulai abai dengan alam? Mereka lebih memilih untuk bertamasya di ruang maya ketimbang menghabiskan waktu menikmati potongan-potongan surga yang tercecer di atas bumi.

Beberapa kejadian belakangan ini memang sempat melahirkan rasa khawatir dalam hati. Di antaranya saat sekumpulan anak muda yang dengan sengaja merusak keindahan Taman Bunga Amarilis Jogja hanya demi kesenangan swafoto yang sesaat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau keindahan alam Danau Napabale ini nanti tercoreng oleh tangan-tangan jahil dengan merusak tumbuhan-tumbuhan hijau yang ada di sekitar danau atau mencoret-coret dinding gua purbakala yang ada di sana.

Rasanya untuk menjaga keberlangsungan itu semua, perlu upaya yang serius agar ada perundang-undangan yang mengatur hubungan antara manusia dengan alam. Dengan begitu maka serpihan surga yang tercecer di bumi Indonesia di Tanah muna atau ditempat lain bisa senantiasa terawat dengan baik dan bisa dinikmati hingga generasi mendatang.

 

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz