Tradisi Mabbaca, Rapal Doa untuk Makanan Suku Bugis Penulis: Tari Artika

Bagi Suku Bugis yang masih memegang tradisi, selesainya tradisi mabbaca sebelum memasuki Ramadan, menandakan mereka telah siap melakukan puasa.

“Iya Bu.. tahun ini saya pulang”

Saya menutup telepon dengan senyum sumringah setelah mengirim kabar kepada orangtua. Sebagai perantau yang kadang hanya pulang saat Idul Fitri,  punya kesempatan puasa pertama di rumah sangat menyenangkan, bagi saya yang sering rindu pulang dan bagi ibu saya yang butuh anak perempuan di rumahnya.

Kami akan sangat sibuk menjelang Ramadan hari pertama. Ada sebuah tradisi yang masih dijalankan oleh keluarga kami dan keluarga-keluarga Bugis di kampung kami di Pinrang, tradisi mabbaca. Kata Mabbaca secara harfiah berarti membaca dalam bahasa Bugis.

Makanan dalam Tradisi Mabbaca Suku Bugis
Makanan dalam Tradisi Mabbaca Suku Bugis

Adapula yang menyebut tradisi ini dengan mabbaca doang yang artinya membaca doa. Mabbaca merupakan prosesi membacakan doa kepada makanan yang telah disajikan pada waktu tertentu, misalnya sebelum memasuki bulan ramadan, sehari sebelum Idul Fitri dan syukuran atas sesuatu seperti membeli mobil baru.

Menjelang Ramadan, setiap keluarga di kampung kami akan sibuk memenuhi dapur dan menyiapkan sajian syukuran menyambut bulan suci umat Islam itu. Anak-anak ramai membawa satu atau dua ekor ayam menuju rumah imam atau khatib masjid untuk disembelih, sedang para perempuan akan sibuk di dapur sejak pagi hingga sore.

Menu sajian yang terdapat di baki setiap rumah tidak jauh berbeda. Menu utama yang disajikan yakni sokko, olahan beras ketan biasanya berwarna putih, hitam, kuning, ayam, dan ikan. Adapun perbedaannya hanya terletak pada cara memasaknya dan tambahan menu lain seperti sop atau palekko yang menjadi makanan khas Pinrang.

Selain paduan menu tersebut, setiap baki wajib disisipi satu telur ayam kampung yang telah direbus terlebih dahulu. Terdapat tiga baki yang disuguhkan dalam tradisi ini, dua di antaranya diletakkan di ruang tamu sedangkan sisanya diletakkan di possi bola atau pusat rumah. Setiap baki diisi dengan satu piring sokko, ikan, dan ayam. Lain pula dengan sajian di luar baki yakni dua kobokan, dua gelas air putih yang belum dimasak, satu gelas susu atau kopi, dua buah pisang yang segar, kue-kue, dan sajian tambahan lainnya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sajian mabbaca ini. Pisang yang disajikan harus diberi wudhu dan disunat. Diberi wudhu maksudnya adalah dipercik-percikkan air sesuai jumlah gerakan wudhu. Sedangkan disunat di sini maksudnya memotong ujung-ujung buah pisang tersebut. Selain itu, telur ayam kampung tadi harus dipecahkan sedikit kemudian ditempelkan ke tengah sokko.

sajian makanan dalam mabbaca suku bugis
Sajian makanan dalam mabbaca suku bugis

Masakan-masakan yang akan dipindahkan ke piring juga tidak asal dipindahkan, orang yang memindahkan masakan harus membaca doa. Untuk satu hal ini saya belum diijinkan untuk mengetahui doa apa yang dirapalkan. Konon, saya harus menikah terlebih dahulu untuk bisa diajarkan doa atau tersebut. Terakhir, semua makanan yang melalui prosesi persiapan mabbaca ini tidak boleh dimakan sebelum selesai didoakan atau dibaca.

Tradisi mabbaca dipimpin oleh pemuka agama seperti imam masjid di desa bersangkutan, adapun yang dipimpin oleh khatib masjid hanya sebagian kecil. Oleh sebab mabbaca dilakukan oleh hampir semua rumah dalam satu desa maka sajian yang disediakan di sore hari ini bisa saja harus menunggu hingga larut malam. Demi menunggu imam masjid yang terus berpindah dari satu rumah ke rumah lain.

Prosesi mabbaca sebenarnya hanya beberapa menit. Imam masjid yang datang duduk di depan baki merapalkan doa sambil memasukkan kemenyan ke dalam dupa yg telah diisi sedikit bara api. Bau kemenyan akan menyeruak ke seisi rumah, sementara Pu’ Imam (sebutan bagi Imam Masjid) akan memegang baki secara bergantian sebagai tanda ia mendoakan makanan tersebut. Dua baki di ruang tamu dan satu baki di posi bola didoakan secara terpisah. Lepas ritual mabbaca tersebut, Pu’ Imam akan sedikit mengobrol dengan pemilik rumah, sekadar bertukar kabar.

Sebelum pamit, pemilik rumah akan memasukkan uang ke dalam saku baju Pu’ Imam. Pemberian uang ini juga termasuk ke dalam ritual mabbaca, setiap rumah melakukan hal ini. Jarang sekali Pu’ Imam akan menyentuh makanan yang disajikan, ia lebih banyak terburu-buru pamit sebab rumah lain telah menunggu.

Selepas ritual tersebut, kami baru bisa menyentuh makanan, mengajak tetangga dan sanak keluarga untuk ikut makan, meskipun mereka juga melakukan ritual yang sama. Sering kami bertukar makanan bila memasak menu yang berbeda. Ibu baru bisa bernapas lega setelah ritual tersebut selesai.

Meskipun hampir semua rumah di desa kami melakukan tradisi tersebut, adapula beberapa yang menolak atau berhenti melakukan tradisi turun temurun itu. Meskipun ini dianggap sebagai tradisi suku Bugis namun tidak semua masyarakat dengan suku Bugis melakukan hal serupa.

Misalnya teman saya Waafiah yang tinggal di Soppeng. Dia mengaku bahwa keluarganya juga masih melakukan tradisi mabbaca. Namun bedanya adalah mereka tidak memakai dupa dan kemenyan, menu sajian tidak diatur dan mabbaca  dipimpin oleh kepala keluarga bukan pemuka agama.

Lain lagi dengan Alhe seorang teman yang juga suku Bugis dan tinggal di Pare-Pare. Alhe dan keluarga juga melakukan tradisi mabbaca namun dilakukan hanya setelah lebaran dengan tujuan mendoakan keselamatan dan mendoakan keluarga yang telah wafat. Sementara itu, Rizal teman saya yang tinggal di Bone tidak lagi melakukan tradisi ini sejak tiga tahun lalu sebab dilarang oleh salah satu anggota keluarga karena menganggapnya musyrik atau menyekutukan Allah.

Bagi kami, masyarakat yang masih memegang tradisi mabbaca sebelum memasuki Ramadan, selesainya ritual mabbaca tersebut menandakan secara tradisi bahwa kami telah siap melakukan niat puasa pertama di bulan Ramadan ini.

 

Artikel Ini Juga Keren Loh!

Bagikan Yuk!

Leave a Reply

Notify of
avatar
wpDiscuz